Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Wednesday, February 6, 2013

Mortality


By William Knox

Oh! why should the spirit of mortal be proud?
Like a swift-fleeting meteor, a fast-flying cloud
A flash of the lightning, a break of the wave
He passeth from life to his rest in the grave.

The leaves of the oak and the willow shall fade,
Be scattered around, and together be laid;
And the young and the old, and the low and the high,
Shall moulder to dust, and together shall lie.

The infant a mother attended and loved;
The mother that infant's affection who proved;
The husband, that mother and infant who blest,--
Each, all, are away to their dwellings of rest.

The maid on whose cheek, on whose brow, in whose eye,
Shone beauty and pleasure, -- her triumphs are by;
And the memory of those who loved her and praised,
Are alike from the minds of the living erased.

The hand of the king that the sceptre hath borne,
The brow of the priest that the mitre hath worn,
The eye of the sage, and the heart of the brave,
Are hidden and lost in the depths of the grave.

The peasant, whose lot was to sow and to reap,
The herdsman, who climbed with his goats up the steep,
The beggar, who wandered in search of his bread,
Have faded away like the grass that we tread.

The saint, who enjoyed the communion of Heaven,
The sinner, who dared to remain unforgiven,
The wise and the foolish, the guilty and just,
Have quietly mingled their bones in the dust.

So the multitude goes -- like the flower or the weed
That withers away to let others succeed;
So the multitude comes -- even those we behold,
To repeat every tale that has often been told.

For we are the same our fathers have been;
We see the same sights our fathers have seen;
We drink the same stream, we view the same sun,
And run the same course our fathers have run.

The thoughts we are thinking, our fathers would think;
From the death we are shrinking, our fathers would shrink;
To the life we are clinging, they also would cling; --
But it speeds from us all like a bird on the wing.

They loved -- but the story we cannot unfold;
They scorned -- but the heart of the haughty is cold;
They grieved -- but no wail from their slumber will come;
They joyed -- but the tongue of their gladness is dumb.

They died -- ay, they died; -- we things that are now,
That walk on the turf that lies over their brow,
And make in their dwellings a transient abode;
Meet the things that they met on their pilgrimage road.

Yea! hope and despondency, pleasure and pain,
Are mingled together in sunshine and rain;
And the smile and the tear, the song and the dirge,
Still follow each other, like surge upon surge.

'Tis the wink of an eye -- 'tis the draught of a breath--
From the blossom of health to the paleness of death,
From the gilded saloon to the bier and the shroud:--
Oh! why should the spirit of mortal be proud?

PS: This is one of my favourite and meaningful poem

Monday, August 27, 2012

Berani Memimpin, dengan Berani Dipimpin



Kepemimpinan bukanlah semata tentang bagaimana kita memimpin, tapi bagaimana melayani. Bagiku, kepemimpinan bukanlah suatu hal yang harus dibanggakan, tapi menjadi pemimpin harus membuat kita semakin rendah hati, dan justru sederhana.

Seorang pemimpin adalah seorang yang harus mampu untuk melayani, jalur kepemimpinan diraih dengan melayani, karena tangga menuju singgasana kepemimpinan yang sejati haruslah diraih dengan menaiki tangga tangga pelayanan, karena kepemimpinan bukanlah suatu hal yang mampu dipelajari dengan instan, namun harus dipelajari dengan cara melayani, karena pemimpin yang tidak mampu melayani tidak akan mampu memimpin.

Pernyataan Iwan Fals bahwanya, “Wakil rakyat seharusnya merakyat” benar kiranya, karena selain menjadi seseorang yang mampu mengarahkan sebuah team menuju sebuah tujuan yang lebih baik, sudah seharusnya pemimpin adalah seseorang yang mampu secara kontinue, konsisten, dan komitmen untuk melayani dan mengayomi serta memotivasi orang orang yang berada di bawahnya, memotivasi untuk terus bergerak, dan berbuat lebih baik lagi dari pada sebelumnya. Pemimpin harus mampu melayani orang orang dibawahnya untuk membantu mereka dan memastikan bahwasanya mereka dalam keadaan untuk melakukan tugasnya dengan baik, karena kekuatan yang sebenarnya dinilai dari seberapa banyak potensi dari rekan kerja kita yang berhasil kita wujudkan kedalam karya nyata dengan cara melayani mereka sebisa kita, seberapa jauh rekan kerja kita dapat melangkah saat dengan bantuan kita, itulah kekuatan sesungguhnya, bukan justru dengan berusaha mengekang mereka, menekan mereka, dengan tuntutan tuntutan dan keinginan keinginan yang kita inginkan, karena bentuk sebuah penekanan dan pemaksaan terhadap rekan kerja dengan menggunakan kekuasaan yang kita punya justru hanyalah sebuah bentuk dari kelemahan.

Bersama kita melayani orang yang memimpin kita, dan bersama pula kita memastikan bahwasanya orang orang yang berada dibawah kepemimpinan kita untuk mendapatkan pelayanan yang terbaik dari diri kita. Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mampu berada di garda terdepan dalam setiap aksi, bukan untuk mengambil alih pekerjaan orang lain, ataupun melakukan micro managing, tapi untuk bertanya kepada orang yang dipimpinnya apa yang bisa ia lakukan dalam membantu pekerjaan mereka, dan bersiap melayani dan mendengarkan orang yang kita pimpin, karena kepemimpjnan sejati adalah bukan dengan cara meminta penghormatan dan ketundukan orang yang kita pimpin dengan melakukan intimidasi karena respect dan loyalty bersifat seperti air di telapak tangan kita, yang mana semakin erat kita menggenggam, semakin banyak pula yang keluar dan jatuh dari genggaman tangan ini, pemimpin yang sejati harus mampu melihat apakah loyalitas orang yang berada dibawah kepemimpinannya adalah hasil dari what he/she can do for them or what she/he can do to them. Karena ketika seseorang merasa mereka terlalu besar untuk melayani, maka ia adalah orang yang terlalu kecil untuk memimpin.

Bara E. Brahmantika "il Grande Statista"

more on: http://grandestatista.tumblr.com 

Friday, November 11, 2011

Welcome to the Magic Worlds



Dua hari belakangan ini aku menyadari banyak hal, tentang diriku, tentang lingkungan disekitarku. Perjalanan dua hari ini membuat aku lebih mengenal diriku sendiri, bahwasanya memang dari dulu hingga kini, aku adalah tipikal manusia yang secara emosional terkait dengan alam, seperti seorang poet terkenal Robert Frost yang dianggap sebagai penulis puisi naturalist, aku pun sering mendapatkan inspirasi dengan bersentuhan dengan alam, bersentuhan dengan alam membuatku lebih dekat dengan diriku sendiri, ada kekuatan magis, kekuataan sihir yang dimiliki oleh tempat tempat tertentu, dan favoritku adalah gunung dan pantai.

Gunung adalah salah satu tempat yang paling sering ku kunjungi, dataran tinggi mempunyai effect sihir tersendiri yang kadang secara logika tidak bisa diungkapkan dengan kata, gunung yang tinggi menjulang keangkasa, sering menunjukkan kemegahan, kekokohan, dan ketenangan di balik semua kekuataan yang dimilikinya. Mendaki gunung memang tidak kulakukan sesering menyusuri pantai, namun gunung tetap menajdi pilihan favoritku apa bila memang memiliki kesempatan dan waktu luang untuk digunakan. Gunung seperti yang dirasakan oleh Morgan Freeman dalam filmya Bucket List memang memiliki bisikannya sendiri, bisikan hanya bisa didengar ketika kita memang berusaha untuk mendengar, Gunung itu memberikan semangat, gunung itu adalah dimana semua nya bermula, sumber kehidupan bernama air dan udara yang segar sering kali dimulai dari hijaunya dan rimbunnya hutan dipegunungan ini. Kalau pantai adalah tempat where everything ends, Gunung adalah tempat where everything starts. Disinilah kita menemukan semangat, disinilah kita menemukan spirit of fighting, tidak heran bahwasanya klo para pendaki gunung adalah para manusia yang bersemangat, tidak peduli seberapa tinggi gunungnya, ataupun seberapa lelah raganya, gunung selalu dapat memberikan kekuatan lebih untuk terus maju dan mendaki menuju puncak, disinilah tempat tertinggi, tempat dimana kita mendapat the power to fight.

Pantai memiliki karakteristik yang berbeda, Pantai adalah tempat dimana semuanya berakhir, ia tempat dimana semua perasaan berkumpul, setiap air yang terkumpul di lautan ini berasal dari daratan dimana kita tinggal, setiap sungai memiliki cerita yang berbeda, dan laut adalah tempat dimana semua nya terkumpul bersama. Lautan cerita dan perasaan itu menurutku memiliki keuatan magisnya sendiri, setiap deburan ombaknya memiliki bisikan nya sendiri, lautan luas dan garis cakrawala memberikan kita sebuah perasaan luas, perasaan luas dalam dada, sekaan akan laut siap untuk menerima setiap tumpahan yang kita berikan padanya. Tidak seperti gunung yang menyimpan kekuatan yang berpotensi destruktif, air lebih dikenal sebagai suatu element yang memiliki potensi kekuatan yang menyembuhkan, menurutku pantai memiliki kekuataan itu, kekuataan untuk menyembuhkan segala luka, bahkan luka di dalam dada. Ketika gunung memberikan kita kekuataan to fight, pantai dan laut memberikan kita kekuatan to let go. Disinilah kita belajar untuk melepaskan, melepaskan semua beban tuk dibawa gulungan ombak kelautan dalam, melepaskan semua beban tuk bersatu dengan semua cerita yang terkumpul di lautan, disinilah laut memberikan kita pelajaran untuk ikhlas, pelajaran untuk merelakan sesuatu yang memang tidak bisa kita miliki. Laut adalah sumber power to let go.

Sunday, October 9, 2011

IndonesiaMUN 2011




Sudah agak lama nih hiatus dari dunia blog ngeblog, cukup lama untuk dikatakan sebagai penulis yang kurang (atau tidak) produktif. Banyak alasan yang bisa digunakan untuk menjelaskan ketidak produktifan ini, tapi well, mungkin harus mulai kumasukin ke list Bara’s rule, bahwasanya Bara’s rules number one, “A lame excuse is only for  losers”

Ok, untuk tulisan kali ini aku akan kubahas tentang event yang baru saja aku ikut serta, IndonesiaMUN (IMUN) 2011 yang diselenggarakan di UI. Event kompetisi simulasi sidang PBB (Model of United Nations) ini telah mempunyai tempat sendiri dalam hidupku sebagai mahasiswa. Pertama kali aku mengikuti  IMUN tahun lalu, I was fall in love with MUN, yang mana semenjak itu MUN menjadi salah satu hal yang aku mendedikasikan waktu dan tenaga untuknya, Tahun ini alhamdulillah dapet kesempatan untuk mengikuti IMUN untuk kedua kalinya, while IMUN 2010 becoming the most memorable IMUN for me, IMUN 2011 menjadi IMUN paling applausible, kalau IMUN 2010 itu diadain untuk membuat aku jatuh cinta sama MUN, IMUN 2011 diadain untuk membuat aku menyadari seberapa mengerikannya MUN,  kalau aq mendiskripsikan IMUN 2010 dengan “Enjoyable MUN experience” , aku harus mendeskripsikan IMUN 2011 sebagai, “intensely fun MUN learning experience”  dan kalau ditanya mana pengalaman yang lebih useful untukku kedepannya, aku akan jawab, “IMUN 2011”

IMUN 2011 buatku was a bitter sweet experience, kembali sebagai delegate of USA, di komite yang sama dengan tahun sebelumnya ASEAN Regional Forum dengan double delegates membuat beban yang kupikul makin berat, terutama sebagai Best Delegate tahun 2010, dan beban sebagai partner yg lebih berpengalaman untuk memberikan pengalaman terbaik bagi partner yg kupilih untuk maju bersama di kompetisi ini, beban untuk mengulangi kesuksesan partner terdahulu, dan mempertahankan gelar juara ini akhirnya membuat beban yang dipikul overpower kepercayaan diri yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya, belum lagi ketika aku sadar, bahwasanya banyak orang hebat berpengelaman dari IMUN tahun lalu (seterusnya akan disebut : Monsters) ternyata turun gunung kembali untuk berkompetisi di ajang IMUN tahun ini, dan kita semua kebetulan akan bersaing dikomite yang sama. Knowing their incredible skills, and experiences membuat pressure yang ada jadi semakin berat untuk dipikul. From that moment on, aq sadar, bahwasanya konferensi tahun ini akan jadi kompetisi yang berat, dan somehow I got a feeling that it will not end well for me, and in fact that prophecy of mine, came true in the end.

After three days of competition I’m doing my better day by day selama kompetisi, i think i perform well, but it was not enough, the fact that I didn’t do my best selama kompetisi, membuat aku harus menelan pil obat yang cukup pahit untuk ditelan tanpa menggunakan segelas susu. Sadar bahwasanya ada kompetisi yang tidak bisa dimenangkan, membuatku mencari fighting ground dimana aq masih punya kesempatan, juara 3 atau yang biasa disebut dengan hoourable mention memang jadi sasaran dan targetku semenjak hari kedua, fighting hard untuk memperoleh tempat di urutan ketiga, dengan berusaha untuk memasukkan semua kepentingan dan goal kedalam resolusi final, yang mana berhasil dilakukan ternyata tidak menjamin untuk menempatkan diri di podium ketiga, dimana juri (chair persons dalam MUN) ternyata mempunyai penilaian yang berbeda, in the end, podium ketigapun harus direlakan pada delegate of China, whom also had a great influence throughout the conference. Lost from great persons that I admire, made the lost was more acceptable to me. Tapi gak ada kekalahan yang menyenangkan atau mudah diterima, terutama ketika kita membawa beban2 dan kepercayaan serta tahu bahwasanya kita bisa jadi lebih baik lagi. It was a shocking experience to me, menyakitkan, dan menyesakkan, the failure untuk tetap meninggikan nama UGM dan mempertahankan gelar juara, juga tanggungan yang ku bawa sebagai partner leave a tremendous pressure during the closing ceremony, seakan2 semua beban yang dipikul itu diangkat tinggi-tinggi dan dijatuhkan dengan keras ke bawah, I was falling, and I was falling hard. Untuk sementara waktu I’m lost di tengah tengah gemuruh tepuk tangan dan sorakan-sorakan ketika nama-nama pemenang diumumkan, banyak pikiran yang melintas di kepala, sambil tetap berusaha tersenyum dan tetap bertepuk tangan meramaikan suasana, dalam kenyataannya, i was at the shocking state, sedang berusaha untuk memastikan wheter it is a real or not. The feeling yang ku rasakan waktu itu hanya bisa dirasakan oleh mereka yang pernah merasakan the taste of losing, tapi setelah mengumpulkan kembali semangat diri,  dan fokus pada acara malam itu, serta berusaha menerima kenyataan yang ada, akhirnya aku sadar bahwa kekalahan itu bukanlah sebuah akhir, this is the beggining, kekalahan pada malam itu adalah sebuah anugrah,  setelah itu aku langsung memutuskan untuk keluar dari venue, pulang lebih dulu untuk berkumpul bersama teman2 sebagai hiburan dan mengevaluasi diri sendiri.

After that, personally for me, I believe there is no better taste than the taste of defeat, and I’m very grateful that I’ve taste that in my life. Rasa dari sebuah kekalahan itu memang pahit, namun rasa pahit inilah yang justru menguatkan, rasa yang mana harus kita ingat terus, sambil berjanji pada diri untuk tidak lagi akan merasakan hal yang sama untuk kedua kalinya. Rasa pahit inilah yang membuat kita maju, bergerak, berlatih, dan berusaha untuk memenangkan kembali apa yang telah hilang. Rasa pahit dari kekalahan ini pula yang memebuat kita belajar, belajar banyak hal, belajar untuk tidak kalah, dan belejar untuk menang, ketiika kita mengalami kekalahan, banyak yang akan kita pelajari dari para pemenang. Bagi sebagian orang, menerima kekalahan bukanlah sebuah hal yang mudah, menerima kenyataan bahwa masih banyak manusia yang lain yang jauh lebih superior dari kita adalah sebuah hal yang tidak mudah, fakta bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk diakui dan aktualisasi diri adalah hal yang membuat kita sulit menerima kenyataan ketika pengakuan dan aktualisasi itu diberikan pada orang lain. Tapi menolak kenyataan tidak akan memebuat semua itu lebih mudah buat kita, menerima kenyataan bahwasanya ada orang lain yang diberikan kelebihan yang tidak kita miliki, dan menerima fakta bahwa masih banyak ruang bagi kita untuk belajar dan berkembang justru akan membuat semua ini lebih mudah buat kita. Bukanlah menolak kenyataan yang harus dilakukan, namun melihat sebuah kekalahan sebagai sebuah pembelajaran, dan sumber yang harus dievaluasi, kita harus melihat kekalahan sebagai sebuah ruang untuk berkembang, melihat kekalahan, sebagai sebuah kesempatan untuk memotivasi diri untuk segera berlatih, maju, dan menang. Kekalahan harusnya menyadarkan kita bahwasanya kita bukanlah manusia yang sempurna, dan bahwasanya kita masih memeliki banyak kekurangan yang harus segera ditutupi. Kekalahan harusnya membuat kita lebih baik, membuat kita lebih berkembang, dan bersemangat dalam menghadapi tantangan, bukan justru melemahkan kita, dan membuat kepala kita tertunduk lemas. Dalam setiap kekalahan ada momentum untuk bangkit, untuk berdiri kembali setelah beberapa saat tergeletak di tanah, untuk kembali berlari setelah tersandung beberapa batu kerikil ditengah jalan.  So now, wipe the sweat from your brow, and the tears from your eyes, and let’s keep pushing through and  go forward.

Pemenang adaalah dia yang mampu mengambil kekuatan dari sebuah kekalahan, axioma bahwasanya seseoarang harus memahami arti dari sebuah kekalahan untuk mencapai kemenangan.  yang hakiki mungkin ada benarnya. Karena seoarang pemenang haruslah seoarang yang mampu untuk mengalami dan menerima kenyataan. Seperti sebuah kata pepatah kuno, “A glod that has a flaw is better than a rock without it.” Bahwasanya sebuah kekalahan dimana kita bisa belajar itu akan lebih baik dari pada sebuah kemenangan yang justru akan menghentikan kita untuk berkembang. Last but not least, never ever waste your loses, if you have to lose, be a loser, but only do it for a sake to be the winner in the next turn.

"Never ever forget the taste of defeat"

Bara E. Brahmantika "il Grande Statista" 

Friday, May 27, 2011

Ketika Hidup Meninggalkan Jejak


Life for me is like juggling balls. Itulah gambaran yang tepat dalam memaknai hidup menurutku, dimana dalam hidup kita, kita bermain, dengan bola-bola kehidupan; bola pekerjaan, bola keluarga, bola iman, bola teman, dan bola kesehatan adalah bola-bola yang paling kita anggap penting dalam hidup. Seiiring waktu , kita pun kehilangan keseimbangan, dan harus memilih salah satu bola untuk jatuh, disinilah orang sering kali tidak sadar, demi melempar tinggi-tinggi pekerjaan ataupun kuliah sering sekali orang-orang mengorbankan entah teman, entah keluarga, entah kesehatan, dan yang paling parah ketika ia mengorbankan keimanannya untuk menyelamatkan pekerjaannya.

Sebuah kisah menceritakan tentang seorang anak yang sangat emosional dan tidakmudah menahan emosinya, ia dengan mudahnya menyakiti orang lain disekitarnya untuk memenuhi ego pribadi nya sendiri. Suatu saat sang ayah memanggil si anak, dan berbincang-bincang dengan anak tersebut, dan mereka membuat kesepakatan. Sang ayah membuat perjanjian dengan anaknya, bahwasanya setiap anak itu melukai orang lain, ataupun marah terhadap orang lain, sang anak harus memaku satu paku dipagar taman belakang untuk setiap orang yang ia lukai atau yang ia marah padanya. Akhirnya setiap hari sang anak memasang beberapa paku dipagar, namun setiap harinya jumlah paku yang dipasang setiap harinya semakin berkurang. Pada suatu hari akhirnya anak itu berhasil untuk berhenti memasang paku-paku itu dipagar. Akhirnya sang Ayah kembali memanggil anak tersebut, dan mengatakan pada anak tersebut untuk mencabut tiap paku yang ada dipagar tersebut setiap kali sang anak melakukan kebaikan terhadap orang lain. Sang anak pun tiap hari mencabuti satu persatu paku yang telah ia tancapkan dipagar itu dahulu, hingga sampai sutu hari semua paku itu pun tercabut, akhirnya sang ayah pun mendatangi anak tersebut dan berkata, “Wahai anakku, lihatlah ke pagar tersebut, lihatlah pada tempat-tempat dimana engkau pernah menancapkan paku-paku tersebut. Apa yang kau lihat?” Anaknya menjawab, “aku melihat lubang lubang kecil, ayah.” Sang Ayah pun tersenyum, “Benar sekali anakku, begitu pulalah hidup dan hati manusia, kalau engkau telah melukai hati manusia, sebaik apapun engkau, berusaha memperbaikinya, akan tetap ada bekas pada hati-hati yang engkau lukai, akan tetap ada goresan, noda, maupun retakan, pada hati yang telah engkau lukai. Maka dari karena itu anakku, berhati hatilah dalam bertindak, jagalah perasaan orang di sekitarmu, dan berusahalah untuk tidak melukai hati orang lain, Karena itu akan meninggalkan bekas, karena bekas itu akan ada disana untuk selamanya.”

Cerita tentang Ayah dan Anak, dengan perumpamaannya tentang kehidupan sangatlah sesuai dengan kehidupan yang kita jalani saat ini. Rasa egois kita sering kali akhirnya mengorbankan teman, mengorbankan keluarga, mengorbankan iman. Ketika rasa ego kita akhirnya mengorbankan bola – bola kehidupan yang terbuat dari kaca tersebut, maka yang kita akan temukan adalah retaknya, tergoresnya, ternodanya, atau bahkan hancur berkeping-kepingnya bola – bola tersebut, yang mana kita tak kan pernah bisa satukan kembali menjadi seperti semula. Ingatlah wahai kawan, setiap tindakan itu akan selalu berbekas, setiap tindakan itu akan meninggalkan noda, dan setiap tindakan akan di minta pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Jadi mari memilih, meninggalkan bekas luka, atau meninggalkan ukiran-ukiran indah di dalam kehidupan kita? Meninggalkan noda noda hitam di atas hati? Atau meninggalkan warna-warna yang mencerahkan hati? Akankah kita mengorbankan iman, demi keegoisan seorang insan? Semoga kita bisa memilih dengan bijak akan jalan yang kita pilih, semoga kita bisa memilih dengan hati, dan selalu berhati-hati untuk menjaga perasaan orang lain.

Bara E. Brahmantika "Il Grande Statista"

Monday, April 4, 2011

Untukmu Wahai Teman Seperjuangan

Assalamualaikum wr, wb

To All of my friends

To All of my best friends

To All of Little Candle in My life

And to All best youth! The next generation leader who can make the better world to live in peace and love

Sekarang aku akan berbagi dengan teman-temanku yang sedang merasa sedih, merasa kalau jalan hidupnya begitu sempit, buat teman-teman yang merasa kalau lilin yang digenggamnya mulai redup, habis, dan buat teman-teman yang melihat tembok nan tinggi menghadang di hadapannya!

Buat teman-teman yang merasa harapan sudah tidak berguna, merasa bahwa dirinya tak mampu lagi untuk berjalan maju kedepan! yang terjebak di bawah reruntuhan keputus asaan atas cinta, yang sedang bergulat dengan semua tugas berat yang diembannya, yang sedang berpikir keras menyelesaikan permasalahan bangsa, .

Kadang itu semua membuat kita sakit, kadang itu semua membuat kita mati rasa, tak lagi dapat merasakan, tak dapat merasakan apa yang kita sentuh, tak dapat memperhatikan apa yang kita lihat, dan tak dapat mencerna apa yang aku dengar, tapi teman kita harus yakin bahwa Allah adalah sebaik-baiknya prencana, Allah itu adil, Allah itu bijaksana, bagi yang merasakan bahwa hidup ini semakin sulit untuk ditempuh, Berdoalah maka kau akan mendapatkan sesuatu yang berbeda, kau akan dapatkan hidup yang lebih baik, kau akan dapatkan ketenangan, saat semua kau gantungkan pada yang Maha Kuasa, saat semua kau percayakan pada Yang maha Kuat Lagi maha mendengar Doa, maka yakinlah semua akan menjadi makin mudah, karena itulah yang terjadi dalam hidupku, saat hidupku terasa berat untuk dijalani, maka doa memberiku kekutaan untuk kembali berdiri,

Dan buat teman-teman yang sekarang lagi berduka, yang sekarang sedang menundukkan muka, yang sekarang sedang merenungi hidup yang memang tak sempurna, dan yang sedang bergulat dengan keputus asaan! Ku katakan padamu, berdirilah! Angkatlah wajahmu, dan jangan lagi menghadap kebelakang, jangan pernah takut untuk menghadapi masa depan, kadang hidup ini memang sulit, tapi seperti seorang yang belajar untuk menaiki sepeda, kadang kau akan jatuh, tapi itu bukan berarti kau berhenti belajar dan menyerah, yang harus kau lakukan adalah berdiri dan kayuh kembali sepedamu, tak peduli berapa kalipun kau jatuh, selama kau masih punya kemauan untuk mencoba dan berdiri maka kau belum benar-benar kalah! Kadang memang sepeda yang kau kayuh akan bergoyang, tapi jangan berhenti, karena itulah hidup, kau harus terus mengkayuhnya kedepan untuk membuatnya seimbang!

Jalan untuk sukses itu memang berat, tapi itu bukan berarti kita harus kembali kebelakang, tetaplah berlari di jalur kesuksesanmu, dan apabila kau dapati tembok menghalangi di depanmu, jgn pernah berhenti, panjat dan lompati tembok itu, karena di depan sana banyak org yang menanti, banyak orang yang menunggumu, di garis finish kesuksesanmu, mereka menunggumu dengan harapan, senyuman, dan tangan yang terbuka untuk menopangmu, saat kau sampai pada garis itu, ingatlah bahwa Allah bersamamu, keluargamu, teman-temanmu akan selalu mendampingimu, mereka yang selalu mendukungmu dari luar arena.

Kau tak berlari sendiri, kau berlari bersama mereka! Majulah seperti kesatria, karena seorang kesatria tak akan pernah mundur dari medan perang apabila ia telah menghunuskan pedang dan memakai baju zirahnya, seorang kesatria kan terus bertarung dimedan pertempuran sampai Allah memberikan ia kemenangan atau ia mati dengan terhormat disana!

Jangan pernah mundur, tak peduli seberapa berat hidupmu, tak peduli seberapa bodoh kau terlihat berjuang dengan beban-beban hidupmu, kau harus tetap berjuang untuk orang yang kau cintai, karena sekarang kau berjuang bukan hanya untuk dirimu, kau berjuang untuk impianmu, kau berjuang untuk temand temandmu, dan untuk keluargamu, dan untuk bangsa dan agamamu, saat ini di pundakmu ada beban dari puluhan, bahkan ratusan dan ribuan harapan dari orang-orang disekitarmu, dan itu membuat kita tak bisa menyerah begitu saja, karena di sana pasti banyak orang yang menunggu hari dimana kita maraih kesuksessan, dan aku yakin kau pun ingin melihat kembali senyuman semua org!

Sekarang memang saat yang sulit bagi kita semua, tapi berpikir tentang masa depan membuatku terhibur, dan tentang masa sulit ini, disana masih ada harapan, karena melihat kesempataanku, aku belum benar-benar dalam posisi skakmat! Mungkin hari didepan akan jadi makin sulit, tapi keluargaku terkenal dengan ketahanan dan kegigihannya, kalau aku menyerah sekarang, ini akan jadi sebuah aib bagi keluarga.

Tiap kali aku berpikir bahwa aku bisa membuat dunia menjadi lebih baik, membuat api ambisi dalam diriku menggelora dan bercahaya lebih dari sebelumnya, walau aku tak kan tau sampai kapan api ini akan bersinar, aku cuma berharap ini akan bersinar selamanya. Situasi yang sulit dalam hidup ini bukan berarti kita harus melarikan diri dan bersembunyi, Kita adalah pemuda-pemudi yang bisa membuat mimpi jadi nyata, dan kita tak bisa hanya membuang mimpi itu, tidak melakukan sesuatu dan hanya diam adalah pilihan paling pengecut yang pernah ada.

"Allah memberikanmu kenikmatan, dan keberuntungan maka bersyukurlah dan pujilah Ia, tapi apabila Allah memberimu sebuah kesulitan dan rintangan untuk mengujimu, bersabarlah dan teruslah bersoa pada nya, dan mintalah kekuatan dan kebijaksanaan untuk melewati ujian itu, bersabarlah, karena Allah selalu punya rencana yang baik buatmu, seperti Hujan, apabila kau bersabar sampai hujan ini reda, maka kau akan melihat mentari kembali bersinar menyinari harimu, dan Allah akan memberimu pelangi yang indah untuk dinikmati!"

Kita adalah lilin lilin kecil kehidupan ini, kita adalah calon pemimpin dunia ini! Dan lihatlah dunia ini, masih banyak yang harus kita lakukan, perang, kematian orang-orang tak bersalah, korupsi, krisis pangan dan moral tak satupun dari itu yang kita harapankan untuk masa depan dunia yang damai! Menurutmu hidup macam apa yang menanti kita di depan sana? Aku tahu jalan untuk menciptakan dunia yang damai ini masih amat sangat panjang, mimpi untuk menjadikan dunia ini lebih baik untuk kita tingggali bersama keluarga kita dan generasi anak-anak kita nanti, mimpiku untuk melindungi sebanyak mungkin yang aku bisa walau hanya sedikit, aku ingin melindungi generasi-genersi setelah kita, dan berharap generasi setelah kita akan kembali melindungi generasi setelahnya, manusia memang lemah, tapi kita paling tidak harus bisa melakukan itu.

Orang mungkin akan bilang kita adalah seorang idealist dan perfectionist, tapi seseorang yang tak berani bermimpi adalah orang yang tak akan merubah apapun, karena mimpi adalah awal dari sebuah perubahan, dan apabila orang sudah berhenti bermimpi dan berhenti membicarakan mimpi mereka, maka mereka sudah berhenti menjadi manusia! Mimpi adalah sesuatu yang membuatkan aku merasa disini masih ada sedikit harapan untuk membuat dunia yang lebih baik! Karena Perubahan ada ditangan kita! Para pemimpin masa depan!

“Aku tidak memintamu untuk cuma percaya pada kemampuanku untuk membawa perubahan yang nyata, tapi aku memintamu untuk percaya pada kemampuanmu untuk mengubah dunia" –Barrack Obama-

God Bless you All

Revisi dari tulisanku untuk teman-teman AFS/YES 51

Sunday, April 3, 2011

Sahabat

Sahabat adalah sebuah kata penting dalam hidup Kita, sebuah element dan unsur yg gak bisa terpisahkan dalam hidup, ia yang memberi warna warni dalam kehidupan kita. Ia bagaikan cermin bagi kita yang takkan berbohong dan menggambarkan kita apa adanya!

Kita sangat memerlukan seorang sahabat, kadang kita tak sekuat prasangka kita,
kita pun tak sehebat apa yang kita bayangkan, karena kebanggaan prasangka dan bayang2 diri hanyalah tameng semu, kita perlu sahabat untuk menguatkan kita.

Manusia pada dasarnya adalah lemah apabila sendiri dan kuat apabila bersatu...sahabat adalah orang yang tidak berjalan di depan kita karena kita tak kan dapat mengejarnya, ia juga bukan orang yang berjalan di belakang kita karena kita tak kan mampu membimbingnya, ia adalah orang yang berjalan disamping kita,ia menguatkan kita dan menemani kita menjalani hidup ini dengan segala keadaan yang menghadang di depan.

Sahabat berjalan beriringan dengan kita menapaki langkah2 khidupan bersama, sahabat yang beriman ibarat benderang pelita, sahabat yang setia seperti harum kesturi, sahabat sejati menjadi pendorong impian, sahabat berhati mulia membawa qta ke jalan-Nya, karena itu manusia yang paling lemah adalah orang yang tak mampu mencari teman, namun yang lebih lemah dari itu adalah orang yang punya bnyk teman tapi menyianyiakannya. Kita harus berjalan bersama sahabat karena sahabat adalah seorang dapat menerangi kita dalam gelap.

Sahabat saling menerangi yang satu dengan yang lain, saling bercahaya dan berjalan beriringan meski hanya dalam doa, sahabat adalah orang yang dapat membantu kita keluar dari lubang yang dalam, yang kita terjerumus di dalamnya dan teramat sulit untuk keluar, sahabat dapat membantu kita saat semakin derasnya hujan dan angin yang bertiup, sahabat memegangi payung yg nyaris terbawa angin, seorang sahabat membantu kita bertahan dalam badai topan,maupun banjir, sahabat adalah orang yang mampu memberikan kekuatan dan kesabaran dari kesendirian.

Di edit dari tulisan lama di Edelweiss

Daftar Kebaikan

Suatu hari seorang guru meminta kepada para muridnya untuk membuat daftar semua nama murid di kelas itu pada dua lembar kertas, dan memberikan tempat kosong di setiap nama. Kemudian ia meminta mereka untuk memikirkan hal yang terbaik mengenai teman mereka dan menuliskannya.

Tugas itu ternyata menyita sisa waktu pelajaran untuk diselesaikan, dan ketika para murid meninggalkan kelas, setiap orang menyerahkan hasilnya.

Sabtu itu, sang guru menuliskan nama dari setiap murid di kertas yang terpisah, lalu membuat daftar apa yang telah dikatakan oleh murid yang lain mengenai murid itu.

Dan pada hari Senin, ia memberikan setiap murid daftarnya. Tidak lama kemudian, seluruh kelas mulai tersenyum.

"Sungguh?" ia mendengar suara bisik-bisik.

"Aku tidak tahu bahwa aku berarti untuk orang lain!" dan, "Aku tidak tahu kalau yang lain sangat menyukaiku." Begitulah komentar yang didengar oleh sang guru.

Tidak ada orang yang menyinggung daftar itu di kelas lagi. Ia tidak pernah tahu apakah para murid membicarakannya di luar kelas atau kepada para orang tua mereka, tetapi tidak masalah. Latihan itu telah sampai tujuannya. Para murid sangat bahagia dengan komentar itu dan menyukai satu sama lainnya.

Beberapa tahun kemudian, salah seorang dari murid itu tewas terbunuh di VietNam dan gurunya menghadiri pemakaman murid itu. Ia tidak pernah melihat seorang tentara di dalam peti jenazah militer sebelumnya.

Muridnya itu sangat tampan, sangat dewasa.

Seluruh gereja dipenuhi oleh teman-temannya. Satu persatu yang mencintainya menghampiri peti jenazah itu.

Sang guru adalah orang yang terakhir yang mengucapkan salam perpisahan.

Ketika ia berdiri di sana, salah seorang dari tentara yang bertugas sebagai pengangkut peti jenazah itu menghampirinya.

"Apakah kamu guru matematikanya Mark?" tanyanya. Sang guru mengangguk,

"iya." Kemudian tentara itu melanjutkan : "Mark banyak membicarakan dirimu."

Setelah pemakaman, bekas teman sekelas Mark bersama-sama pergi ke tempat makan siang. Ayah dan ibu Mark ada di sana, sangat jelas terlihat bahwa mereka tidak sabar untuk berbicara dengan guru Mark.

"Kami ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu," kata ayah Mark, sambil mengambil dompet dari sakunya.

"Mereka menemukan benda ini pada Mark ketika ia tewas. Kami kira Anda mungkin akan mengenalinya."

Sambil membuka dompet itu, ayah Mark dengan sangat hati-hati mengeluarkan dua lembar kertas yang sudah diisolasi, dilipat berkali-kali. Sang guru langsung mengenalinya, bahwa kertas itu adalah kertas yang dibuat olehnya berisikan daftar kebaikan Mark yang ditulis oleh teman-teman sekelasnya.

"Terima kasih karena telah melakukan hal itu," ibu Mark berkata.

"Seperti yang Anda lihat, Mark menyimpannya sebagai salah satu hartanya."

Semua mantan teman sekelas Mark mulai berkumpul. Charlie tersenyum dengan malu-malu sambil berkata, "Aku juga masih menyimpan daftarku. Daftarku itu berada di bagian atas laci meja belajarku di rumah."

Istri Chuck berkata, "Chuck memintaku untuk meletakkannya di album pernikahan kami."

"Aku juga memilikinya," kata Marilyn.

"Daftarku ada dalam buku harianku."

Kemudan Vicki, teman sekelas yang lain, mengambil buku sakunya, kemudian mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan daftarnya yang sudah kusam dan lecek kepada yang lain.

"Aku membawanya bersamaku setiap waktu," ujar Vicki, lalu sambungnya : "Aku rasa kita semua menyimpan daftar kita masing-masing."

Pada saat itu, sang guru terduduk dan menangis. Ia menangis karena Mark dan seluruh temannya tidak akan mungkin melihat Mark kembali.

Begitu banyak orang yang datang dan pergi di kehidupan kita dan kita tidak mengetahui kapan hari itu akan tiba.

Jadi katakanlah kepada orang yang Anda kasihi dan cintai, bahwa mereka sangat penting dan spesial dalam kehidupan Anda. Katakanlah kepada mereka sebelum terlambat.