Friday, November 11, 2011

Welcome to the Magic Worlds



Dua hari belakangan ini aku menyadari banyak hal, tentang diriku, tentang lingkungan disekitarku. Perjalanan dua hari ini membuat aku lebih mengenal diriku sendiri, bahwasanya memang dari dulu hingga kini, aku adalah tipikal manusia yang secara emosional terkait dengan alam, seperti seorang poet terkenal Robert Frost yang dianggap sebagai penulis puisi naturalist, aku pun sering mendapatkan inspirasi dengan bersentuhan dengan alam, bersentuhan dengan alam membuatku lebih dekat dengan diriku sendiri, ada kekuatan magis, kekuataan sihir yang dimiliki oleh tempat tempat tertentu, dan favoritku adalah gunung dan pantai.

Gunung adalah salah satu tempat yang paling sering ku kunjungi, dataran tinggi mempunyai effect sihir tersendiri yang kadang secara logika tidak bisa diungkapkan dengan kata, gunung yang tinggi menjulang keangkasa, sering menunjukkan kemegahan, kekokohan, dan ketenangan di balik semua kekuataan yang dimilikinya. Mendaki gunung memang tidak kulakukan sesering menyusuri pantai, namun gunung tetap menajdi pilihan favoritku apa bila memang memiliki kesempatan dan waktu luang untuk digunakan. Gunung seperti yang dirasakan oleh Morgan Freeman dalam filmya Bucket List memang memiliki bisikannya sendiri, bisikan hanya bisa didengar ketika kita memang berusaha untuk mendengar, Gunung itu memberikan semangat, gunung itu adalah dimana semua nya bermula, sumber kehidupan bernama air dan udara yang segar sering kali dimulai dari hijaunya dan rimbunnya hutan dipegunungan ini. Kalau pantai adalah tempat where everything ends, Gunung adalah tempat where everything starts. Disinilah kita menemukan semangat, disinilah kita menemukan spirit of fighting, tidak heran bahwasanya klo para pendaki gunung adalah para manusia yang bersemangat, tidak peduli seberapa tinggi gunungnya, ataupun seberapa lelah raganya, gunung selalu dapat memberikan kekuatan lebih untuk terus maju dan mendaki menuju puncak, disinilah tempat tertinggi, tempat dimana kita mendapat the power to fight.

Pantai memiliki karakteristik yang berbeda, Pantai adalah tempat dimana semuanya berakhir, ia tempat dimana semua perasaan berkumpul, setiap air yang terkumpul di lautan ini berasal dari daratan dimana kita tinggal, setiap sungai memiliki cerita yang berbeda, dan laut adalah tempat dimana semua nya terkumpul bersama. Lautan cerita dan perasaan itu menurutku memiliki keuatan magisnya sendiri, setiap deburan ombaknya memiliki bisikan nya sendiri, lautan luas dan garis cakrawala memberikan kita sebuah perasaan luas, perasaan luas dalam dada, sekaan akan laut siap untuk menerima setiap tumpahan yang kita berikan padanya. Tidak seperti gunung yang menyimpan kekuatan yang berpotensi destruktif, air lebih dikenal sebagai suatu element yang memiliki potensi kekuatan yang menyembuhkan, menurutku pantai memiliki kekuataan itu, kekuataan untuk menyembuhkan segala luka, bahkan luka di dalam dada. Ketika gunung memberikan kita kekuataan to fight, pantai dan laut memberikan kita kekuatan to let go. Disinilah kita belajar untuk melepaskan, melepaskan semua beban tuk dibawa gulungan ombak kelautan dalam, melepaskan semua beban tuk bersatu dengan semua cerita yang terkumpul di lautan, disinilah laut memberikan kita pelajaran untuk ikhlas, pelajaran untuk merelakan sesuatu yang memang tidak bisa kita miliki. Laut adalah sumber power to let go.

The Journey of Questions



“Hidup adalah proses untuk bertanya” tulis Dee dalam bukunya “Madre”, sepenggal kalimat yang membuat kepala ini berputar mencoba menggali  lebih dalam pesan yang ingin disampaikan Dee dalam tulisannya. Pertanyaan adalah hal yang membuat kita hidup, bertanya menurutku adalah tanda sebuah kehidupan, bukan hanya sebuah kehidupan biasa, namun bertanya menjadikan kita sebagai manusia. Bertanya atau menanyakan adalah hal yang akhirnya membedakan manusia dengan makhluk lainnya, membuat manusia jauh lebih berkembang di bandingkan makhluk lainnya, membuat kita menjadi makhluk superior di muka bumi. Bagi orang Islam kehidupan dimulai dengan sebuah pertanyaan, di dalam rahim Tuhan bertanya apakah kita menyaksikan dan meyakini bahwasanya Allah itu adalah Tuhan, hidup pun ternyata diakhiri dengan pertanyaan “Man rabbuka?” (Siapa Tuhanmu?) sehingga menurutku bukan hanya hidup ini adalah sebuah proses untuk bertanya, namun juga proses untuk mencari jawabnya.

Isaac Newton menjadi genius karena dia adalah orang yang mempertanyakan mengapa apel bisa jatuh dari pohon, Galileo menjadi genius karena ia mempertanyakan tentang teori helocentris, kehebatan dan kejeniusan mereka semua diawali dari sebuah pertanyaan. Dalam kehidupan kita pun kadang sering timbul banyak pertanyaan, tentang tujuan kehidupan kita, tentang jati diri kita, tentang bagaimana kita harus mati, dan tentang Tuhan maupun cinta. Namun terkadang ada pertanyaan yang memang tercipta untuk tidak terjawab, atau kadang renungan kita tentang sebuah pertanyaan justru  membawa kita bukan pada jawaban namun pada pertanyaan yang lain. Bertanya dalam satu hal justru mendorong kita untuk maju untuk tetap mencari jawaban, namun ada kalanya justru semakin kita bertanya, yang muncul justru adalah perasaan bimbang, perasaan takut akan jawaban yang mungkin akan kita temukan yang acap kali justru membuat kita mundur dari pencarian tentang sebuah kebenaran, Aristotles pernah berkata “bahwasanya seorang filusuf sejati, seorang manusia yang berakal haruslah tidak pernah berhenti mencari sebuah kebenaran dalam setiap pertanyaan.” tapi tak akan ada sebuah jawaban tanpa sebuah keberanian, karena terkadang kebenaran adalah sesuatu yang menakutkan, dan tak jarang sebuah kebenaran itu adalah suatu hal yang menyakitkan, sehingga untuk mendapatkan sebuah jawaban maka kita harus berani untuk menerima rasa sakit, dan menerima kenyataaan walau itu pahit.

Seminggu ini kepala ku dipenuhi akan banyak pertanyaan, pertanyaan pertanyaan yang kadang belum terjawabkan, celakanya, seringkali pertanyaan itu justru membuatku bimbang, membuat “galau” mungkin dalam bahasa gaul kontemporer, yang mana kegalauan kegaluan ini mendera bersama dengan puluhan pertanyaan yang hinggap dalam dada. Pemilihan Ketua KOMAHI sendiri membuat ku berada pada sebuah persimpangan jalan, persimpangan jalan yang asing, yang ujungnya tak tentu, yang tak sanggup untuk ku melihat akhir dari setiap jalan yang ada. Di persimpangan ini setiap pertanyaan tentang masa depan hinggap, setiap jalan terasa meragukan, setiap langkah terasa berat dan tak pasti, “Sanggupkah diri ini?” , “Pantaskah diri ini?” , “ Bagaimana kalau nanti...?” dan puluhan pertanyaan lain yang datang silih berganti tanpa sempat ku menjawab pertanyaan sebelumnya. Di persimpangan ini aku meragu, dipersimpangan ini aku berbimbang, dipersimpangan pula aku mengumpulkan keberanian, untuk menentukan langkah mencari jawaban. Walau nanti mungkin perjalanan ini akan berujuang pada pertanyaan lain, walau mungkin nanti perjalanan ini berujung pada sebuah kebenaraan yang pahit, ah aku sudah tidak lagi peduli, sudah sejauh ini aku melangkah, it doesn’t matter what the asnwer is, what matter is that we are brave enough to find and accept the answer. Because life is a Journey of Questions.

Sunday, October 9, 2011

IndonesiaMUN 2011




Sudah agak lama nih hiatus dari dunia blog ngeblog, cukup lama untuk dikatakan sebagai penulis yang kurang (atau tidak) produktif. Banyak alasan yang bisa digunakan untuk menjelaskan ketidak produktifan ini, tapi well, mungkin harus mulai kumasukin ke list Bara’s rule, bahwasanya Bara’s rules number one, “A lame excuse is only for  losers”

Ok, untuk tulisan kali ini aku akan kubahas tentang event yang baru saja aku ikut serta, IndonesiaMUN (IMUN) 2011 yang diselenggarakan di UI. Event kompetisi simulasi sidang PBB (Model of United Nations) ini telah mempunyai tempat sendiri dalam hidupku sebagai mahasiswa. Pertama kali aku mengikuti  IMUN tahun lalu, I was fall in love with MUN, yang mana semenjak itu MUN menjadi salah satu hal yang aku mendedikasikan waktu dan tenaga untuknya, Tahun ini alhamdulillah dapet kesempatan untuk mengikuti IMUN untuk kedua kalinya, while IMUN 2010 becoming the most memorable IMUN for me, IMUN 2011 menjadi IMUN paling applausible, kalau IMUN 2010 itu diadain untuk membuat aku jatuh cinta sama MUN, IMUN 2011 diadain untuk membuat aku menyadari seberapa mengerikannya MUN,  kalau aq mendiskripsikan IMUN 2010 dengan “Enjoyable MUN experience” , aku harus mendeskripsikan IMUN 2011 sebagai, “intensely fun MUN learning experience”  dan kalau ditanya mana pengalaman yang lebih useful untukku kedepannya, aku akan jawab, “IMUN 2011”

IMUN 2011 buatku was a bitter sweet experience, kembali sebagai delegate of USA, di komite yang sama dengan tahun sebelumnya ASEAN Regional Forum dengan double delegates membuat beban yang kupikul makin berat, terutama sebagai Best Delegate tahun 2010, dan beban sebagai partner yg lebih berpengalaman untuk memberikan pengalaman terbaik bagi partner yg kupilih untuk maju bersama di kompetisi ini, beban untuk mengulangi kesuksesan partner terdahulu, dan mempertahankan gelar juara ini akhirnya membuat beban yang dipikul overpower kepercayaan diri yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya, belum lagi ketika aku sadar, bahwasanya banyak orang hebat berpengelaman dari IMUN tahun lalu (seterusnya akan disebut : Monsters) ternyata turun gunung kembali untuk berkompetisi di ajang IMUN tahun ini, dan kita semua kebetulan akan bersaing dikomite yang sama. Knowing their incredible skills, and experiences membuat pressure yang ada jadi semakin berat untuk dipikul. From that moment on, aq sadar, bahwasanya konferensi tahun ini akan jadi kompetisi yang berat, dan somehow I got a feeling that it will not end well for me, and in fact that prophecy of mine, came true in the end.

After three days of competition I’m doing my better day by day selama kompetisi, i think i perform well, but it was not enough, the fact that I didn’t do my best selama kompetisi, membuat aku harus menelan pil obat yang cukup pahit untuk ditelan tanpa menggunakan segelas susu. Sadar bahwasanya ada kompetisi yang tidak bisa dimenangkan, membuatku mencari fighting ground dimana aq masih punya kesempatan, juara 3 atau yang biasa disebut dengan hoourable mention memang jadi sasaran dan targetku semenjak hari kedua, fighting hard untuk memperoleh tempat di urutan ketiga, dengan berusaha untuk memasukkan semua kepentingan dan goal kedalam resolusi final, yang mana berhasil dilakukan ternyata tidak menjamin untuk menempatkan diri di podium ketiga, dimana juri (chair persons dalam MUN) ternyata mempunyai penilaian yang berbeda, in the end, podium ketigapun harus direlakan pada delegate of China, whom also had a great influence throughout the conference. Lost from great persons that I admire, made the lost was more acceptable to me. Tapi gak ada kekalahan yang menyenangkan atau mudah diterima, terutama ketika kita membawa beban2 dan kepercayaan serta tahu bahwasanya kita bisa jadi lebih baik lagi. It was a shocking experience to me, menyakitkan, dan menyesakkan, the failure untuk tetap meninggikan nama UGM dan mempertahankan gelar juara, juga tanggungan yang ku bawa sebagai partner leave a tremendous pressure during the closing ceremony, seakan2 semua beban yang dipikul itu diangkat tinggi-tinggi dan dijatuhkan dengan keras ke bawah, I was falling, and I was falling hard. Untuk sementara waktu I’m lost di tengah tengah gemuruh tepuk tangan dan sorakan-sorakan ketika nama-nama pemenang diumumkan, banyak pikiran yang melintas di kepala, sambil tetap berusaha tersenyum dan tetap bertepuk tangan meramaikan suasana, dalam kenyataannya, i was at the shocking state, sedang berusaha untuk memastikan wheter it is a real or not. The feeling yang ku rasakan waktu itu hanya bisa dirasakan oleh mereka yang pernah merasakan the taste of losing, tapi setelah mengumpulkan kembali semangat diri,  dan fokus pada acara malam itu, serta berusaha menerima kenyataan yang ada, akhirnya aku sadar bahwa kekalahan itu bukanlah sebuah akhir, this is the beggining, kekalahan pada malam itu adalah sebuah anugrah,  setelah itu aku langsung memutuskan untuk keluar dari venue, pulang lebih dulu untuk berkumpul bersama teman2 sebagai hiburan dan mengevaluasi diri sendiri.

After that, personally for me, I believe there is no better taste than the taste of defeat, and I’m very grateful that I’ve taste that in my life. Rasa dari sebuah kekalahan itu memang pahit, namun rasa pahit inilah yang justru menguatkan, rasa yang mana harus kita ingat terus, sambil berjanji pada diri untuk tidak lagi akan merasakan hal yang sama untuk kedua kalinya. Rasa pahit inilah yang membuat kita maju, bergerak, berlatih, dan berusaha untuk memenangkan kembali apa yang telah hilang. Rasa pahit dari kekalahan ini pula yang memebuat kita belajar, belajar banyak hal, belajar untuk tidak kalah, dan belejar untuk menang, ketiika kita mengalami kekalahan, banyak yang akan kita pelajari dari para pemenang. Bagi sebagian orang, menerima kekalahan bukanlah sebuah hal yang mudah, menerima kenyataan bahwa masih banyak manusia yang lain yang jauh lebih superior dari kita adalah sebuah hal yang tidak mudah, fakta bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk diakui dan aktualisasi diri adalah hal yang membuat kita sulit menerima kenyataan ketika pengakuan dan aktualisasi itu diberikan pada orang lain. Tapi menolak kenyataan tidak akan memebuat semua itu lebih mudah buat kita, menerima kenyataan bahwasanya ada orang lain yang diberikan kelebihan yang tidak kita miliki, dan menerima fakta bahwa masih banyak ruang bagi kita untuk belajar dan berkembang justru akan membuat semua ini lebih mudah buat kita. Bukanlah menolak kenyataan yang harus dilakukan, namun melihat sebuah kekalahan sebagai sebuah pembelajaran, dan sumber yang harus dievaluasi, kita harus melihat kekalahan sebagai sebuah ruang untuk berkembang, melihat kekalahan, sebagai sebuah kesempatan untuk memotivasi diri untuk segera berlatih, maju, dan menang. Kekalahan harusnya menyadarkan kita bahwasanya kita bukanlah manusia yang sempurna, dan bahwasanya kita masih memeliki banyak kekurangan yang harus segera ditutupi. Kekalahan harusnya membuat kita lebih baik, membuat kita lebih berkembang, dan bersemangat dalam menghadapi tantangan, bukan justru melemahkan kita, dan membuat kepala kita tertunduk lemas. Dalam setiap kekalahan ada momentum untuk bangkit, untuk berdiri kembali setelah beberapa saat tergeletak di tanah, untuk kembali berlari setelah tersandung beberapa batu kerikil ditengah jalan.  So now, wipe the sweat from your brow, and the tears from your eyes, and let’s keep pushing through and  go forward.

Pemenang adaalah dia yang mampu mengambil kekuatan dari sebuah kekalahan, axioma bahwasanya seseoarang harus memahami arti dari sebuah kekalahan untuk mencapai kemenangan.  yang hakiki mungkin ada benarnya. Karena seoarang pemenang haruslah seoarang yang mampu untuk mengalami dan menerima kenyataan. Seperti sebuah kata pepatah kuno, “A glod that has a flaw is better than a rock without it.” Bahwasanya sebuah kekalahan dimana kita bisa belajar itu akan lebih baik dari pada sebuah kemenangan yang justru akan menghentikan kita untuk berkembang. Last but not least, never ever waste your loses, if you have to lose, be a loser, but only do it for a sake to be the winner in the next turn.

"Never ever forget the taste of defeat"

Bara E. Brahmantika "il Grande Statista" 

Friday, May 27, 2011

Ketika Hidup Meninggalkan Jejak


Life for me is like juggling balls. Itulah gambaran yang tepat dalam memaknai hidup menurutku, dimana dalam hidup kita, kita bermain, dengan bola-bola kehidupan; bola pekerjaan, bola keluarga, bola iman, bola teman, dan bola kesehatan adalah bola-bola yang paling kita anggap penting dalam hidup. Seiiring waktu , kita pun kehilangan keseimbangan, dan harus memilih salah satu bola untuk jatuh, disinilah orang sering kali tidak sadar, demi melempar tinggi-tinggi pekerjaan ataupun kuliah sering sekali orang-orang mengorbankan entah teman, entah keluarga, entah kesehatan, dan yang paling parah ketika ia mengorbankan keimanannya untuk menyelamatkan pekerjaannya.

Sebuah kisah menceritakan tentang seorang anak yang sangat emosional dan tidakmudah menahan emosinya, ia dengan mudahnya menyakiti orang lain disekitarnya untuk memenuhi ego pribadi nya sendiri. Suatu saat sang ayah memanggil si anak, dan berbincang-bincang dengan anak tersebut, dan mereka membuat kesepakatan. Sang ayah membuat perjanjian dengan anaknya, bahwasanya setiap anak itu melukai orang lain, ataupun marah terhadap orang lain, sang anak harus memaku satu paku dipagar taman belakang untuk setiap orang yang ia lukai atau yang ia marah padanya. Akhirnya setiap hari sang anak memasang beberapa paku dipagar, namun setiap harinya jumlah paku yang dipasang setiap harinya semakin berkurang. Pada suatu hari akhirnya anak itu berhasil untuk berhenti memasang paku-paku itu dipagar. Akhirnya sang Ayah kembali memanggil anak tersebut, dan mengatakan pada anak tersebut untuk mencabut tiap paku yang ada dipagar tersebut setiap kali sang anak melakukan kebaikan terhadap orang lain. Sang anak pun tiap hari mencabuti satu persatu paku yang telah ia tancapkan dipagar itu dahulu, hingga sampai sutu hari semua paku itu pun tercabut, akhirnya sang ayah pun mendatangi anak tersebut dan berkata, “Wahai anakku, lihatlah ke pagar tersebut, lihatlah pada tempat-tempat dimana engkau pernah menancapkan paku-paku tersebut. Apa yang kau lihat?” Anaknya menjawab, “aku melihat lubang lubang kecil, ayah.” Sang Ayah pun tersenyum, “Benar sekali anakku, begitu pulalah hidup dan hati manusia, kalau engkau telah melukai hati manusia, sebaik apapun engkau, berusaha memperbaikinya, akan tetap ada bekas pada hati-hati yang engkau lukai, akan tetap ada goresan, noda, maupun retakan, pada hati yang telah engkau lukai. Maka dari karena itu anakku, berhati hatilah dalam bertindak, jagalah perasaan orang di sekitarmu, dan berusahalah untuk tidak melukai hati orang lain, Karena itu akan meninggalkan bekas, karena bekas itu akan ada disana untuk selamanya.”

Cerita tentang Ayah dan Anak, dengan perumpamaannya tentang kehidupan sangatlah sesuai dengan kehidupan yang kita jalani saat ini. Rasa egois kita sering kali akhirnya mengorbankan teman, mengorbankan keluarga, mengorbankan iman. Ketika rasa ego kita akhirnya mengorbankan bola – bola kehidupan yang terbuat dari kaca tersebut, maka yang kita akan temukan adalah retaknya, tergoresnya, ternodanya, atau bahkan hancur berkeping-kepingnya bola – bola tersebut, yang mana kita tak kan pernah bisa satukan kembali menjadi seperti semula. Ingatlah wahai kawan, setiap tindakan itu akan selalu berbekas, setiap tindakan itu akan meninggalkan noda, dan setiap tindakan akan di minta pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Jadi mari memilih, meninggalkan bekas luka, atau meninggalkan ukiran-ukiran indah di dalam kehidupan kita? Meninggalkan noda noda hitam di atas hati? Atau meninggalkan warna-warna yang mencerahkan hati? Akankah kita mengorbankan iman, demi keegoisan seorang insan? Semoga kita bisa memilih dengan bijak akan jalan yang kita pilih, semoga kita bisa memilih dengan hati, dan selalu berhati-hati untuk menjaga perasaan orang lain.

Bara E. Brahmantika "Il Grande Statista"

Sunday, April 17, 2011

Sebuah Berlian dan Aku

















Berulang kali sebenarya Mama telah meminta, meminta ku dalam keadaan serius maupun bercanda, Untuk membawa sebuah berlian untuk ditunjukkan padanya dan papa.

Namun tak kunjung pula ku bisa penuhi permintaan itu, aku hanya bisa tersenyum, miris, dan berjanji untuk membawakannya segera, kata “insyaallah” tak lupa ku ucapkan, kadang lirih, tak terdengar, kadang jelas, bersama sebuah senyuman.

Mudah sebenarnya mencari sebuah berlian, tinggal ku susuri pasar-pasar dan pinggiran-pinggiran jalan, mengambil berlian-berlianan, berlian buat-buatan, yang mirip sekali bentuknya, sama bahkan kadang lebih berkilau dari berlian yang sebenarnya. Namun ini kah yang aku persembahkan? ini kah yang aku akan banggakan? ah, sepertinya tidak, walau compang-camping seperti ini, aku masih punya harga diri. walau belopotan lumpur dan oli seperti ini, wajah ini haruslah tetap terhormat dan tegap memandang ke depan, karena sejarah tak akan menghapus apa yang ia telah tuliskan.

Jadi bersabarlah sebentar oh Ibunda, bertahanlah sebentar ayahanda, sabar lah sebentar lagi, berikanlah waktu bagi anakmu ini untuk memperbaiki diri, membersihkan diri dari lumpur-lumpur dan oli. Merapikan diri dari kecompang-campingan ini. Agar pantas kiranya apabila ku masuki rumah Sang Pembuat berlian itu tuk meminta dari-Nya salah satu berlian pujaan itu. Karena sungguh berlian murni itu hanyalah untuk orang yang murni pula hatinya, berlian Indah itu hanya untuk orang yang telah memperindah akhlaknya.

Sampai saat itu terjadi ku mohon pada papa mama tuk tetap menanti, menanti sampai suatu saat dimana anakmu telah siap untuk melengkapi dirinya, dengan perhiasan berlian untuk ditunjukkan padamu nanti. sampai saat itu tiba mohon tetaplah berdoa untuk anakmu ini, semoga cepat ku pantaskan diri ini, tuk menjemput sebuah berlian pujaan hati.

Wednesday, April 6, 2011

Love and Hope




Kemaren malam, 05 April 2011 adalah malam terakhirku di Bali, sebelum kembali ke Jogja untuk kembali bergulat dengan ujian-ujian tengah semester

Aku dan ortu memutuskan untuk keluar dan menghabiskan waktu di luar rumah malam itu, kami mampir dulu ke Gramedia di Mall Matahari untuk memcari beberapa buku

Setelah mencapai parkiran di lantai teratas, kami menuruni tangga, dan berjalan melalui tempat peralatan dan pakaian anak dan bayi, tiba-tiba nyokap berenti, liat-liat baju bayi dan keluar sebuah percakapan yang aneh

Mama: Mas cepetan punya momongan gih, mumpung Mama masih sehat

Papa: Iya, mas, kapan punya momongan?

Aku: ?!#%!?#%!?

Percakapan berakhir karena aku sambil nyengir, langsung ngacir buru-buru turun ke Gramedia.

Walaupun itu terkesan sebagai candaan, samar-samar bisa aku rasakan bahwasanya ada sedikit harapan dan keseriusan pada setiap pertanyaan-pertanyaan tersebut, belum lagi belakangan ini juga mama dan papa jadi sering tanya-tanya tentang masalah pacar yang selalu harus ku jawab, "Hehhehe,,, belum ada yg nyantol, belum ada yang mau nih"

Tadi sore pun, sepulang olah raga di GSP UGM, saya pulang melewati Pandega Bakti, sekalian mengabil beberapa catatan untuk difotokopi, saat itu Adzan Maghrib sedang berkumandang, dari jauh saya bisa melihat ada seorang Kakek yang telah sangat sepuh berjalan berlawanan arah dari arah menuju masjid, dengan baju rpi, dan peci, dia tertatih tatih berjalan ke arah saya, ternyata dia kembali ke rumahnya (mungkin) lupa kalau dia punya istri (yang akan berangkat ke masjid juga) , berdiri, di depan pagar dengan sabar menunggu sang istri, sang nenek yang telah memakai mukenah yang juga tertatih tatih kesulitan untuk menggunakan sandalnya secara benar, dengan sabar sang kakek menunggu, menunggu (mungkin) cinta sehidup sematinya, yang tak pernah tergantikan, bak sepasang burung Dara yang setia saling menjaga, bak Angsa yang tak pernah menikah untuk kedua kalinya, benar benar sehidup dan semati.

Saya tertegun, merenung sejenak, di balik keringat bercucuran dan kaki yang pegal setelah olahraga sore itu, terbanyang sosok Mama dan Papa, kira-kira mungkin seperti itulah kesetiaaan mereka berdua, yang tak pernah berkurang rasa cinta dintaranya, 20 tahun Mama dan Papa bersama, tak kulihat kecuali kecintaan yang semakin bertambah, di saat susah, di saat senang, kadarnya selalu sama, bahkan terus membesar, sama seperti sang Kakek dan Nenek, cinta merka tak lekang, dan tak usang oleh waktu

Semenjak Papa di vonis gagal ginjal, 2 tahun yang lalu, hidup ini rasa nya seperti dikejar oleh waktu, aku, dan adik, merasa harus menyelesaikan semuanya secepat mungkin, dan hidup mandiri secepat mungkin, tak ada yang tau berapa lama Papa akan bertahan, tapi doa adalah satu-satunya obat yang paling mujarab yang ku punya tuk ku berikan, mimpi-mimpi dulu ketika bersama kita bicara tentang masa depan, di mana papa kan datang di acara wisuda ku, di acara pernikahanku, dimana anak-anakku akan mengenal dan bermain Kakeknya yang berjasa mendidikku, dulu semua itu terasa sangat mungkin, sangat pasti akan terjadi, namun ya Allah engkau yang memiliki dan menuliskan takdir, yang aku bisa hanyalah berdoa, semoga Kau panjangkan umur kedua orang tuaku, semoga ku berikan kesehatan kepada meraka berdua, semoga mereka berdua memiliki kesempatan untuk mengenal Istriku, menantu mereka nanti, dan memiliki kesempatan untuk mewariskan pelajaran-pelajaran yang kudapatkan dari mereka pada cucu-cucu mereka nanti, Ya Allah berikanlah yang terbaik bagi kami semua, dan semua keturunan kami. Aminn


Monday, April 4, 2011

Untukmu Wahai Teman Seperjuangan

Assalamualaikum wr, wb

To All of my friends

To All of my best friends

To All of Little Candle in My life

And to All best youth! The next generation leader who can make the better world to live in peace and love

Sekarang aku akan berbagi dengan teman-temanku yang sedang merasa sedih, merasa kalau jalan hidupnya begitu sempit, buat teman-teman yang merasa kalau lilin yang digenggamnya mulai redup, habis, dan buat teman-teman yang melihat tembok nan tinggi menghadang di hadapannya!

Buat teman-teman yang merasa harapan sudah tidak berguna, merasa bahwa dirinya tak mampu lagi untuk berjalan maju kedepan! yang terjebak di bawah reruntuhan keputus asaan atas cinta, yang sedang bergulat dengan semua tugas berat yang diembannya, yang sedang berpikir keras menyelesaikan permasalahan bangsa, .

Kadang itu semua membuat kita sakit, kadang itu semua membuat kita mati rasa, tak lagi dapat merasakan, tak dapat merasakan apa yang kita sentuh, tak dapat memperhatikan apa yang kita lihat, dan tak dapat mencerna apa yang aku dengar, tapi teman kita harus yakin bahwa Allah adalah sebaik-baiknya prencana, Allah itu adil, Allah itu bijaksana, bagi yang merasakan bahwa hidup ini semakin sulit untuk ditempuh, Berdoalah maka kau akan mendapatkan sesuatu yang berbeda, kau akan dapatkan hidup yang lebih baik, kau akan dapatkan ketenangan, saat semua kau gantungkan pada yang Maha Kuasa, saat semua kau percayakan pada Yang maha Kuat Lagi maha mendengar Doa, maka yakinlah semua akan menjadi makin mudah, karena itulah yang terjadi dalam hidupku, saat hidupku terasa berat untuk dijalani, maka doa memberiku kekutaan untuk kembali berdiri,

Dan buat teman-teman yang sekarang lagi berduka, yang sekarang sedang menundukkan muka, yang sekarang sedang merenungi hidup yang memang tak sempurna, dan yang sedang bergulat dengan keputus asaan! Ku katakan padamu, berdirilah! Angkatlah wajahmu, dan jangan lagi menghadap kebelakang, jangan pernah takut untuk menghadapi masa depan, kadang hidup ini memang sulit, tapi seperti seorang yang belajar untuk menaiki sepeda, kadang kau akan jatuh, tapi itu bukan berarti kau berhenti belajar dan menyerah, yang harus kau lakukan adalah berdiri dan kayuh kembali sepedamu, tak peduli berapa kalipun kau jatuh, selama kau masih punya kemauan untuk mencoba dan berdiri maka kau belum benar-benar kalah! Kadang memang sepeda yang kau kayuh akan bergoyang, tapi jangan berhenti, karena itulah hidup, kau harus terus mengkayuhnya kedepan untuk membuatnya seimbang!

Jalan untuk sukses itu memang berat, tapi itu bukan berarti kita harus kembali kebelakang, tetaplah berlari di jalur kesuksesanmu, dan apabila kau dapati tembok menghalangi di depanmu, jgn pernah berhenti, panjat dan lompati tembok itu, karena di depan sana banyak org yang menanti, banyak orang yang menunggumu, di garis finish kesuksesanmu, mereka menunggumu dengan harapan, senyuman, dan tangan yang terbuka untuk menopangmu, saat kau sampai pada garis itu, ingatlah bahwa Allah bersamamu, keluargamu, teman-temanmu akan selalu mendampingimu, mereka yang selalu mendukungmu dari luar arena.

Kau tak berlari sendiri, kau berlari bersama mereka! Majulah seperti kesatria, karena seorang kesatria tak akan pernah mundur dari medan perang apabila ia telah menghunuskan pedang dan memakai baju zirahnya, seorang kesatria kan terus bertarung dimedan pertempuran sampai Allah memberikan ia kemenangan atau ia mati dengan terhormat disana!

Jangan pernah mundur, tak peduli seberapa berat hidupmu, tak peduli seberapa bodoh kau terlihat berjuang dengan beban-beban hidupmu, kau harus tetap berjuang untuk orang yang kau cintai, karena sekarang kau berjuang bukan hanya untuk dirimu, kau berjuang untuk impianmu, kau berjuang untuk temand temandmu, dan untuk keluargamu, dan untuk bangsa dan agamamu, saat ini di pundakmu ada beban dari puluhan, bahkan ratusan dan ribuan harapan dari orang-orang disekitarmu, dan itu membuat kita tak bisa menyerah begitu saja, karena di sana pasti banyak orang yang menunggu hari dimana kita maraih kesuksessan, dan aku yakin kau pun ingin melihat kembali senyuman semua org!

Sekarang memang saat yang sulit bagi kita semua, tapi berpikir tentang masa depan membuatku terhibur, dan tentang masa sulit ini, disana masih ada harapan, karena melihat kesempataanku, aku belum benar-benar dalam posisi skakmat! Mungkin hari didepan akan jadi makin sulit, tapi keluargaku terkenal dengan ketahanan dan kegigihannya, kalau aku menyerah sekarang, ini akan jadi sebuah aib bagi keluarga.

Tiap kali aku berpikir bahwa aku bisa membuat dunia menjadi lebih baik, membuat api ambisi dalam diriku menggelora dan bercahaya lebih dari sebelumnya, walau aku tak kan tau sampai kapan api ini akan bersinar, aku cuma berharap ini akan bersinar selamanya. Situasi yang sulit dalam hidup ini bukan berarti kita harus melarikan diri dan bersembunyi, Kita adalah pemuda-pemudi yang bisa membuat mimpi jadi nyata, dan kita tak bisa hanya membuang mimpi itu, tidak melakukan sesuatu dan hanya diam adalah pilihan paling pengecut yang pernah ada.

"Allah memberikanmu kenikmatan, dan keberuntungan maka bersyukurlah dan pujilah Ia, tapi apabila Allah memberimu sebuah kesulitan dan rintangan untuk mengujimu, bersabarlah dan teruslah bersoa pada nya, dan mintalah kekuatan dan kebijaksanaan untuk melewati ujian itu, bersabarlah, karena Allah selalu punya rencana yang baik buatmu, seperti Hujan, apabila kau bersabar sampai hujan ini reda, maka kau akan melihat mentari kembali bersinar menyinari harimu, dan Allah akan memberimu pelangi yang indah untuk dinikmati!"

Kita adalah lilin lilin kecil kehidupan ini, kita adalah calon pemimpin dunia ini! Dan lihatlah dunia ini, masih banyak yang harus kita lakukan, perang, kematian orang-orang tak bersalah, korupsi, krisis pangan dan moral tak satupun dari itu yang kita harapankan untuk masa depan dunia yang damai! Menurutmu hidup macam apa yang menanti kita di depan sana? Aku tahu jalan untuk menciptakan dunia yang damai ini masih amat sangat panjang, mimpi untuk menjadikan dunia ini lebih baik untuk kita tingggali bersama keluarga kita dan generasi anak-anak kita nanti, mimpiku untuk melindungi sebanyak mungkin yang aku bisa walau hanya sedikit, aku ingin melindungi generasi-genersi setelah kita, dan berharap generasi setelah kita akan kembali melindungi generasi setelahnya, manusia memang lemah, tapi kita paling tidak harus bisa melakukan itu.

Orang mungkin akan bilang kita adalah seorang idealist dan perfectionist, tapi seseorang yang tak berani bermimpi adalah orang yang tak akan merubah apapun, karena mimpi adalah awal dari sebuah perubahan, dan apabila orang sudah berhenti bermimpi dan berhenti membicarakan mimpi mereka, maka mereka sudah berhenti menjadi manusia! Mimpi adalah sesuatu yang membuatkan aku merasa disini masih ada sedikit harapan untuk membuat dunia yang lebih baik! Karena Perubahan ada ditangan kita! Para pemimpin masa depan!

“Aku tidak memintamu untuk cuma percaya pada kemampuanku untuk membawa perubahan yang nyata, tapi aku memintamu untuk percaya pada kemampuanmu untuk mengubah dunia" –Barrack Obama-

God Bless you All

Revisi dari tulisanku untuk teman-teman AFS/YES 51

White Love

Ku tuliskan semua yang indah di hatiku
yang pernah hampiriku....
banyak kata yang ingin ku ucapkan
dengar hatiku dengar pula jiwaku

semua yang indah ada di dirimu
tak kan bisa ku buang
kau beri ku rasa
rasa yang ku sebut cinta....

katakan padaku kau mencintaiku
akan menemaniku sepanjang hidupmu
yankinkan aku bahwa
kau akan beri cinta suci untukku

dengan ini ku akan mencoba
beri cinta putihku
untukmu yang tulus dari hatiku
karna bagiku kau adalah segalanya

tak kan pernah ku lepas
tak kan mungkin ku tinggalkan
percayalah karna hany dirimu
satu yang ku rindu
tak pernah terbagi yang lain.............


toek someone yg mengerti atau mencoba tuk mengerti hatiku saat ini!!

By: Dakkap

The Moment that Change My Life

Last night, I just wrote something, in which titled "The Four Seasons if Love" in my Tumblr blog, as I posted my piece of work, many maybe wonder, where the heck I came up with the conclusion or perhaps they start to wonder where did my inspiration come from?


It begins in 2005, I was a junior, a second grader in the Middle School, that was when, love taught me a lesson, in which I have to learn it the hard way. It was my first time to have a complicated relationships with girls. I met this girl, we were just friend at first, I tried to get her know my friend, and she tried to get me to know her friend, in simple words, we were match maker. But as I get in touch with her so often, instead having a feeling for her friends, maybe his is what in Javanese principle we know as "witing tresno jalaran soko kulino". I started to have a feeling for her, that is when the wind of Spring, the spring of love came into my life, text after text, conversation after conversation, email by email, and after a long call in almost every night, then i said to my self, "this is it, this is the love of my life", since then I always wait for her text, and her call. Every morning I always looking to a mirror to make sure that I look sharp, I try my best to impress her in anyway I possibly could. Then here comes the next season.


Ied Fitr in 2005, This was where the summer begin, I was back at my grandma house, in Banyuwangi, my feeling for her was getting stronger and stronger, to the point I couldn't hide it anymore, I consulted to my friend about my feeling, and my craziness about her, and I asked my friend to find out whether she has the same feeling about me or not, then my friend promised to help me to find a way to tell her my feeling. Once time, I accidentally send a text message to her, I supposed to send it to my friend, but instead I sent it to her. It confused her a lot, in fact it anger her a bit, so I pulled my self together, and told her that I think I'm fall in love with her, she didn't reply my text till the next day, and that one day is one of longest day in life. The Wind of Summer of Love came, she replied my text and she said that she felt the same way (or she just wanted to give me chance since she felt sorry for me - I don't know), her text sent me away to the sky on that day, that was one of the happiest day of my life, it felt like you hit a jackpot on the slot machine. since then my life is full of the blossom flower, love is everywhere, I texted her every hours, I always want to know how is she doing, what is she doing, or just want to say "have a good nap/night my sweetie bunny" or simply say . "I love you" (Love has pretty shallow definition for me back then back then no night without an hour call, when I can't call I text her or email her every moment I could. The world was a beautiful place for me, everywhere was beautiful, and everybody was kind, I lost in the madness of love, everywhere I saw her face, I heard her voice, I was insane to the moment I forgot everything, except her. it was a great life until that day came, the day, every secrets reveal itself, the day that strong wind, that strong storm, shaking the tree of love, blowing all the leaves, leaving a dry, dying tree, alone, in the Autumn of Love


That day was just a few months later, 5 or 6 months after the start of that bombastic relationships, Ied Al-Adha - The day of sacrifice, where every moslem, sacrifice a goat, camel, or a cow as an obligation, not to serve God, but to serve the other, this day is the turning point of my love story, the anti climax of my life, I got a phone call from my friends, which was a really long phone call, it was more like a consultation session with a CIA agent, they told me fact by fact about my relationship with her, how much a change since then, how much it affect my personality, how I forget about my academic life, how I forget about my friends, and just how many people hurt by me and all the ugly truth about the relationships, which if I go to the detail, it will take me an hour to explain that. In short this relationships between the downtown man (me) and the uptown girl (her) need to answer several question, "Is this relationship real?", "Do I really love her?" "Does she really love me?" "Is this merely a game for both of us?" "Is this love? or just an obsession of mine?" "Do I have to hurt somebody else to love somebody?" , It was not easy for me to answer all of those question, neither I can answer all of them, since some question only she can answer. So just a few days after, we decided to end the relationship, to give us sometime, to follow our own path of to answer , it was painful for me, I was sick or perhaps ill so bad for few days, there still some part of me that missing, and the pain, the pain that I felt was so great, it was painful, yet it was beautiful, the pleasure pain of love. The Autumn of Love, the fallen of the dreams, that brings me into the desperado, to the abyss of my life, to the loneliness, to the deep dark road of the adventure, to find the answer of my life.


Since then, it was an uphill for me, the first few months was a really cold, and lonely life to enjoy, the solitude, the silent, and the nothingness, made me feel that I'm the only one that real in this world, Cuz I'm the only one that can feel the pain, It was when I feel "I feel pain, therefore I am" , everybody seems don't understand, I have to fake a smile just to make them not worry about me anymore, it was not easy to erase some memories, in fact I am still holding into some of that memories, but as the time goes on, as the time heal every wound, I was starting to enjoy this solitude, in fact I'm still enjoying it now, time by time I'm realized that in solitude you can know yourself better, you can hear the voice of yourself without have to worry about other thing else, to listen on what the nature, the God tries to say to me, it is easier to find the answer without all other noises that disturbing you, in solitude you find yourself, and it is a big chance in solitude you find the God, this Winter of love has taught me a lot of things that changed the orbit of my life, to laugh at every bad thing in the past, to let the burden slide on my shoulder, in the winter of solitude, in the winter of Love.

Ps: I hope every of you who are in this story to forgive every mistake that I made in the past, and I hope you find your own way of live, and your own meaning of love. I wish you have a great live

Bara E. Brahmantika