Monday, August 27, 2012

Berani Memimpin, dengan Berani Dipimpin



Kepemimpinan bukanlah semata tentang bagaimana kita memimpin, tapi bagaimana melayani. Bagiku, kepemimpinan bukanlah suatu hal yang harus dibanggakan, tapi menjadi pemimpin harus membuat kita semakin rendah hati, dan justru sederhana.

Seorang pemimpin adalah seorang yang harus mampu untuk melayani, jalur kepemimpinan diraih dengan melayani, karena tangga menuju singgasana kepemimpinan yang sejati haruslah diraih dengan menaiki tangga tangga pelayanan, karena kepemimpinan bukanlah suatu hal yang mampu dipelajari dengan instan, namun harus dipelajari dengan cara melayani, karena pemimpin yang tidak mampu melayani tidak akan mampu memimpin.

Pernyataan Iwan Fals bahwanya, “Wakil rakyat seharusnya merakyat” benar kiranya, karena selain menjadi seseorang yang mampu mengarahkan sebuah team menuju sebuah tujuan yang lebih baik, sudah seharusnya pemimpin adalah seseorang yang mampu secara kontinue, konsisten, dan komitmen untuk melayani dan mengayomi serta memotivasi orang orang yang berada di bawahnya, memotivasi untuk terus bergerak, dan berbuat lebih baik lagi dari pada sebelumnya. Pemimpin harus mampu melayani orang orang dibawahnya untuk membantu mereka dan memastikan bahwasanya mereka dalam keadaan untuk melakukan tugasnya dengan baik, karena kekuatan yang sebenarnya dinilai dari seberapa banyak potensi dari rekan kerja kita yang berhasil kita wujudkan kedalam karya nyata dengan cara melayani mereka sebisa kita, seberapa jauh rekan kerja kita dapat melangkah saat dengan bantuan kita, itulah kekuatan sesungguhnya, bukan justru dengan berusaha mengekang mereka, menekan mereka, dengan tuntutan tuntutan dan keinginan keinginan yang kita inginkan, karena bentuk sebuah penekanan dan pemaksaan terhadap rekan kerja dengan menggunakan kekuasaan yang kita punya justru hanyalah sebuah bentuk dari kelemahan.

Bersama kita melayani orang yang memimpin kita, dan bersama pula kita memastikan bahwasanya orang orang yang berada dibawah kepemimpinan kita untuk mendapatkan pelayanan yang terbaik dari diri kita. Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang mampu berada di garda terdepan dalam setiap aksi, bukan untuk mengambil alih pekerjaan orang lain, ataupun melakukan micro managing, tapi untuk bertanya kepada orang yang dipimpinnya apa yang bisa ia lakukan dalam membantu pekerjaan mereka, dan bersiap melayani dan mendengarkan orang yang kita pimpin, karena kepemimpjnan sejati adalah bukan dengan cara meminta penghormatan dan ketundukan orang yang kita pimpin dengan melakukan intimidasi karena respect dan loyalty bersifat seperti air di telapak tangan kita, yang mana semakin erat kita menggenggam, semakin banyak pula yang keluar dan jatuh dari genggaman tangan ini, pemimpin yang sejati harus mampu melihat apakah loyalitas orang yang berada dibawah kepemimpinannya adalah hasil dari what he/she can do for them or what she/he can do to them. Karena ketika seseorang merasa mereka terlalu besar untuk melayani, maka ia adalah orang yang terlalu kecil untuk memimpin.

Bara E. Brahmantika "il Grande Statista"

more on: http://grandestatista.tumblr.com 

Monday, January 30, 2012

Kau, Aku, dan Diam.



Lama sekiranya kita telah terjebak dalam diam. Yang berhadiahkan angan-angan, dalam permainan tebak tebakan untuk menyikap makna tersirat dalam setiap yang tersurat. Kita diam dalam sebuah petak umpet, permainan kucing kucingan, takut apabila dipertemukan dengan kebenaran.  

Lama aku telah menjadi bayang-bayang, yang hanya bisa menemanimu dalam gelap, dalam diam. Menikmati keindahanmu dalam kesendirian, dalam kegelapaan. Takut apabila cahaya terang benderang bersinar, memperlihatkan wujud asli yang terbungkus dalam bayangan, menelanjangi setiap rasa dalam hati yang akhirnya akan membuatku terhapus dalam kehidupanmu, bahkan hilang dari ingatan.

Dulu setiap detik dari kita telah dihabiskan dalam perjalanan untuk saling bertemu, namun tak pernah kita mencoba untuk menyamakan peta, ataupun menuju arah mata angin yang sama, keangkuhan membuat jalan kita terpisah. kita diam, sambil berdoa untuk menemukan jalan, bahwa suatu saat kita akan dipertemukan.

Pertemuan dua hati hanya menjadi impian impian, sekedar imajinasi untuk menghibur diri.  Cinta diberlakukan bak dewa, ia menjadi pajangan yang disembah, kita berharap suatu saat ia akan tumbuh sendiri, menemukannya jalannya sendiri, berharap rahasia kehidupan membawanya kepada diri yang hanya diam dan menunggu disini.

Namun arus kehidupan itu kuat dan kejam, tak ada toleransi bagi mereka yang memilih untuk diam, air yang tak mengalir akan membeku sampai dasar apabila musim dingin tiba, cinta yang terus terpendam akan mati,  terkubur dalam kekeringan di ruang tanpa cahaya. Jalannya waktu membuat kebenaran makin terpojok, membuat kita semakin takut, takut kehilangan yang akhirnya memaksa kita untuk berkata jujur dan memaksa kita untuk mengakui bahwasanya tak seharusnya cinta dipajang dan disembah bagaikan dewa, bahwasanya cinta bukan iming-iming belaka, ia nyata, dan ia tak dapat bertahan apabila ia dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan, karena cinta itu adalah kita.

Cinta itu hidup, dan ia perlu bergerak, perlu mengalir untuk terus hidup dan berkembang. Saatnya bagi kita untuk memilih, ingin segera ku lepaskan jari ini dari tombol tunda, membiarkan ranjau itu meledak, membiarkan gunung itu meletus sehingga tinggal kebenaran yang tersisa diantara kita. Kebenaran bahwasanya tak perlu lagi aku menjadi bayangan,  hingga bisa kudekati engkau dengan perlahan, tanpa harus saling membendung. Dimana langkah kaki kita bisa sejalan, dan kita bisa saling bergandengan tangan untuk saling mengiring, hingga kita berduapun lebur dalam kenyataan, dalam kebenaran yang menghangatkan. Hingga yang tersisa adalah kenyataan yang akan meruntuhkan diam.

Teruntuk engkau, udara dan inspirasiku. terima kasih. "B"

Bara E. Brahmantika, "Il Grande Statista"

Yogyakarta, 30 Januari 2012

more on : grandestatista.tumblr,com

Friday, November 11, 2011

Welcome to the Magic Worlds



Dua hari belakangan ini aku menyadari banyak hal, tentang diriku, tentang lingkungan disekitarku. Perjalanan dua hari ini membuat aku lebih mengenal diriku sendiri, bahwasanya memang dari dulu hingga kini, aku adalah tipikal manusia yang secara emosional terkait dengan alam, seperti seorang poet terkenal Robert Frost yang dianggap sebagai penulis puisi naturalist, aku pun sering mendapatkan inspirasi dengan bersentuhan dengan alam, bersentuhan dengan alam membuatku lebih dekat dengan diriku sendiri, ada kekuatan magis, kekuataan sihir yang dimiliki oleh tempat tempat tertentu, dan favoritku adalah gunung dan pantai.

Gunung adalah salah satu tempat yang paling sering ku kunjungi, dataran tinggi mempunyai effect sihir tersendiri yang kadang secara logika tidak bisa diungkapkan dengan kata, gunung yang tinggi menjulang keangkasa, sering menunjukkan kemegahan, kekokohan, dan ketenangan di balik semua kekuataan yang dimilikinya. Mendaki gunung memang tidak kulakukan sesering menyusuri pantai, namun gunung tetap menajdi pilihan favoritku apa bila memang memiliki kesempatan dan waktu luang untuk digunakan. Gunung seperti yang dirasakan oleh Morgan Freeman dalam filmya Bucket List memang memiliki bisikannya sendiri, bisikan hanya bisa didengar ketika kita memang berusaha untuk mendengar, Gunung itu memberikan semangat, gunung itu adalah dimana semua nya bermula, sumber kehidupan bernama air dan udara yang segar sering kali dimulai dari hijaunya dan rimbunnya hutan dipegunungan ini. Kalau pantai adalah tempat where everything ends, Gunung adalah tempat where everything starts. Disinilah kita menemukan semangat, disinilah kita menemukan spirit of fighting, tidak heran bahwasanya klo para pendaki gunung adalah para manusia yang bersemangat, tidak peduli seberapa tinggi gunungnya, ataupun seberapa lelah raganya, gunung selalu dapat memberikan kekuatan lebih untuk terus maju dan mendaki menuju puncak, disinilah tempat tertinggi, tempat dimana kita mendapat the power to fight.

Pantai memiliki karakteristik yang berbeda, Pantai adalah tempat dimana semuanya berakhir, ia tempat dimana semua perasaan berkumpul, setiap air yang terkumpul di lautan ini berasal dari daratan dimana kita tinggal, setiap sungai memiliki cerita yang berbeda, dan laut adalah tempat dimana semua nya terkumpul bersama. Lautan cerita dan perasaan itu menurutku memiliki keuatan magisnya sendiri, setiap deburan ombaknya memiliki bisikan nya sendiri, lautan luas dan garis cakrawala memberikan kita sebuah perasaan luas, perasaan luas dalam dada, sekaan akan laut siap untuk menerima setiap tumpahan yang kita berikan padanya. Tidak seperti gunung yang menyimpan kekuatan yang berpotensi destruktif, air lebih dikenal sebagai suatu element yang memiliki potensi kekuatan yang menyembuhkan, menurutku pantai memiliki kekuataan itu, kekuataan untuk menyembuhkan segala luka, bahkan luka di dalam dada. Ketika gunung memberikan kita kekuataan to fight, pantai dan laut memberikan kita kekuatan to let go. Disinilah kita belajar untuk melepaskan, melepaskan semua beban tuk dibawa gulungan ombak kelautan dalam, melepaskan semua beban tuk bersatu dengan semua cerita yang terkumpul di lautan, disinilah laut memberikan kita pelajaran untuk ikhlas, pelajaran untuk merelakan sesuatu yang memang tidak bisa kita miliki. Laut adalah sumber power to let go.

The Journey of Questions



“Hidup adalah proses untuk bertanya” tulis Dee dalam bukunya “Madre”, sepenggal kalimat yang membuat kepala ini berputar mencoba menggali  lebih dalam pesan yang ingin disampaikan Dee dalam tulisannya. Pertanyaan adalah hal yang membuat kita hidup, bertanya menurutku adalah tanda sebuah kehidupan, bukan hanya sebuah kehidupan biasa, namun bertanya menjadikan kita sebagai manusia. Bertanya atau menanyakan adalah hal yang akhirnya membedakan manusia dengan makhluk lainnya, membuat manusia jauh lebih berkembang di bandingkan makhluk lainnya, membuat kita menjadi makhluk superior di muka bumi. Bagi orang Islam kehidupan dimulai dengan sebuah pertanyaan, di dalam rahim Tuhan bertanya apakah kita menyaksikan dan meyakini bahwasanya Allah itu adalah Tuhan, hidup pun ternyata diakhiri dengan pertanyaan “Man rabbuka?” (Siapa Tuhanmu?) sehingga menurutku bukan hanya hidup ini adalah sebuah proses untuk bertanya, namun juga proses untuk mencari jawabnya.

Isaac Newton menjadi genius karena dia adalah orang yang mempertanyakan mengapa apel bisa jatuh dari pohon, Galileo menjadi genius karena ia mempertanyakan tentang teori helocentris, kehebatan dan kejeniusan mereka semua diawali dari sebuah pertanyaan. Dalam kehidupan kita pun kadang sering timbul banyak pertanyaan, tentang tujuan kehidupan kita, tentang jati diri kita, tentang bagaimana kita harus mati, dan tentang Tuhan maupun cinta. Namun terkadang ada pertanyaan yang memang tercipta untuk tidak terjawab, atau kadang renungan kita tentang sebuah pertanyaan justru  membawa kita bukan pada jawaban namun pada pertanyaan yang lain. Bertanya dalam satu hal justru mendorong kita untuk maju untuk tetap mencari jawaban, namun ada kalanya justru semakin kita bertanya, yang muncul justru adalah perasaan bimbang, perasaan takut akan jawaban yang mungkin akan kita temukan yang acap kali justru membuat kita mundur dari pencarian tentang sebuah kebenaran, Aristotles pernah berkata “bahwasanya seorang filusuf sejati, seorang manusia yang berakal haruslah tidak pernah berhenti mencari sebuah kebenaran dalam setiap pertanyaan.” tapi tak akan ada sebuah jawaban tanpa sebuah keberanian, karena terkadang kebenaran adalah sesuatu yang menakutkan, dan tak jarang sebuah kebenaran itu adalah suatu hal yang menyakitkan, sehingga untuk mendapatkan sebuah jawaban maka kita harus berani untuk menerima rasa sakit, dan menerima kenyataaan walau itu pahit.

Seminggu ini kepala ku dipenuhi akan banyak pertanyaan, pertanyaan pertanyaan yang kadang belum terjawabkan, celakanya, seringkali pertanyaan itu justru membuatku bimbang, membuat “galau” mungkin dalam bahasa gaul kontemporer, yang mana kegalauan kegaluan ini mendera bersama dengan puluhan pertanyaan yang hinggap dalam dada. Pemilihan Ketua KOMAHI sendiri membuat ku berada pada sebuah persimpangan jalan, persimpangan jalan yang asing, yang ujungnya tak tentu, yang tak sanggup untuk ku melihat akhir dari setiap jalan yang ada. Di persimpangan ini setiap pertanyaan tentang masa depan hinggap, setiap jalan terasa meragukan, setiap langkah terasa berat dan tak pasti, “Sanggupkah diri ini?” , “Pantaskah diri ini?” , “ Bagaimana kalau nanti...?” dan puluhan pertanyaan lain yang datang silih berganti tanpa sempat ku menjawab pertanyaan sebelumnya. Di persimpangan ini aku meragu, dipersimpangan ini aku berbimbang, dipersimpangan pula aku mengumpulkan keberanian, untuk menentukan langkah mencari jawaban. Walau nanti mungkin perjalanan ini akan berujuang pada pertanyaan lain, walau mungkin nanti perjalanan ini berujung pada sebuah kebenaraan yang pahit, ah aku sudah tidak lagi peduli, sudah sejauh ini aku melangkah, it doesn’t matter what the asnwer is, what matter is that we are brave enough to find and accept the answer. Because life is a Journey of Questions.

Sunday, October 9, 2011

IndonesiaMUN 2011




Sudah agak lama nih hiatus dari dunia blog ngeblog, cukup lama untuk dikatakan sebagai penulis yang kurang (atau tidak) produktif. Banyak alasan yang bisa digunakan untuk menjelaskan ketidak produktifan ini, tapi well, mungkin harus mulai kumasukin ke list Bara’s rule, bahwasanya Bara’s rules number one, “A lame excuse is only for  losers”

Ok, untuk tulisan kali ini aku akan kubahas tentang event yang baru saja aku ikut serta, IndonesiaMUN (IMUN) 2011 yang diselenggarakan di UI. Event kompetisi simulasi sidang PBB (Model of United Nations) ini telah mempunyai tempat sendiri dalam hidupku sebagai mahasiswa. Pertama kali aku mengikuti  IMUN tahun lalu, I was fall in love with MUN, yang mana semenjak itu MUN menjadi salah satu hal yang aku mendedikasikan waktu dan tenaga untuknya, Tahun ini alhamdulillah dapet kesempatan untuk mengikuti IMUN untuk kedua kalinya, while IMUN 2010 becoming the most memorable IMUN for me, IMUN 2011 menjadi IMUN paling applausible, kalau IMUN 2010 itu diadain untuk membuat aku jatuh cinta sama MUN, IMUN 2011 diadain untuk membuat aku menyadari seberapa mengerikannya MUN,  kalau aq mendiskripsikan IMUN 2010 dengan “Enjoyable MUN experience” , aku harus mendeskripsikan IMUN 2011 sebagai, “intensely fun MUN learning experience”  dan kalau ditanya mana pengalaman yang lebih useful untukku kedepannya, aku akan jawab, “IMUN 2011”

IMUN 2011 buatku was a bitter sweet experience, kembali sebagai delegate of USA, di komite yang sama dengan tahun sebelumnya ASEAN Regional Forum dengan double delegates membuat beban yang kupikul makin berat, terutama sebagai Best Delegate tahun 2010, dan beban sebagai partner yg lebih berpengalaman untuk memberikan pengalaman terbaik bagi partner yg kupilih untuk maju bersama di kompetisi ini, beban untuk mengulangi kesuksesan partner terdahulu, dan mempertahankan gelar juara ini akhirnya membuat beban yang dipikul overpower kepercayaan diri yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya, belum lagi ketika aku sadar, bahwasanya banyak orang hebat berpengelaman dari IMUN tahun lalu (seterusnya akan disebut : Monsters) ternyata turun gunung kembali untuk berkompetisi di ajang IMUN tahun ini, dan kita semua kebetulan akan bersaing dikomite yang sama. Knowing their incredible skills, and experiences membuat pressure yang ada jadi semakin berat untuk dipikul. From that moment on, aq sadar, bahwasanya konferensi tahun ini akan jadi kompetisi yang berat, dan somehow I got a feeling that it will not end well for me, and in fact that prophecy of mine, came true in the end.

After three days of competition I’m doing my better day by day selama kompetisi, i think i perform well, but it was not enough, the fact that I didn’t do my best selama kompetisi, membuat aku harus menelan pil obat yang cukup pahit untuk ditelan tanpa menggunakan segelas susu. Sadar bahwasanya ada kompetisi yang tidak bisa dimenangkan, membuatku mencari fighting ground dimana aq masih punya kesempatan, juara 3 atau yang biasa disebut dengan hoourable mention memang jadi sasaran dan targetku semenjak hari kedua, fighting hard untuk memperoleh tempat di urutan ketiga, dengan berusaha untuk memasukkan semua kepentingan dan goal kedalam resolusi final, yang mana berhasil dilakukan ternyata tidak menjamin untuk menempatkan diri di podium ketiga, dimana juri (chair persons dalam MUN) ternyata mempunyai penilaian yang berbeda, in the end, podium ketigapun harus direlakan pada delegate of China, whom also had a great influence throughout the conference. Lost from great persons that I admire, made the lost was more acceptable to me. Tapi gak ada kekalahan yang menyenangkan atau mudah diterima, terutama ketika kita membawa beban2 dan kepercayaan serta tahu bahwasanya kita bisa jadi lebih baik lagi. It was a shocking experience to me, menyakitkan, dan menyesakkan, the failure untuk tetap meninggikan nama UGM dan mempertahankan gelar juara, juga tanggungan yang ku bawa sebagai partner leave a tremendous pressure during the closing ceremony, seakan2 semua beban yang dipikul itu diangkat tinggi-tinggi dan dijatuhkan dengan keras ke bawah, I was falling, and I was falling hard. Untuk sementara waktu I’m lost di tengah tengah gemuruh tepuk tangan dan sorakan-sorakan ketika nama-nama pemenang diumumkan, banyak pikiran yang melintas di kepala, sambil tetap berusaha tersenyum dan tetap bertepuk tangan meramaikan suasana, dalam kenyataannya, i was at the shocking state, sedang berusaha untuk memastikan wheter it is a real or not. The feeling yang ku rasakan waktu itu hanya bisa dirasakan oleh mereka yang pernah merasakan the taste of losing, tapi setelah mengumpulkan kembali semangat diri,  dan fokus pada acara malam itu, serta berusaha menerima kenyataan yang ada, akhirnya aku sadar bahwa kekalahan itu bukanlah sebuah akhir, this is the beggining, kekalahan pada malam itu adalah sebuah anugrah,  setelah itu aku langsung memutuskan untuk keluar dari venue, pulang lebih dulu untuk berkumpul bersama teman2 sebagai hiburan dan mengevaluasi diri sendiri.

After that, personally for me, I believe there is no better taste than the taste of defeat, and I’m very grateful that I’ve taste that in my life. Rasa dari sebuah kekalahan itu memang pahit, namun rasa pahit inilah yang justru menguatkan, rasa yang mana harus kita ingat terus, sambil berjanji pada diri untuk tidak lagi akan merasakan hal yang sama untuk kedua kalinya. Rasa pahit inilah yang membuat kita maju, bergerak, berlatih, dan berusaha untuk memenangkan kembali apa yang telah hilang. Rasa pahit dari kekalahan ini pula yang memebuat kita belajar, belajar banyak hal, belajar untuk tidak kalah, dan belejar untuk menang, ketiika kita mengalami kekalahan, banyak yang akan kita pelajari dari para pemenang. Bagi sebagian orang, menerima kekalahan bukanlah sebuah hal yang mudah, menerima kenyataan bahwa masih banyak manusia yang lain yang jauh lebih superior dari kita adalah sebuah hal yang tidak mudah, fakta bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk diakui dan aktualisasi diri adalah hal yang membuat kita sulit menerima kenyataan ketika pengakuan dan aktualisasi itu diberikan pada orang lain. Tapi menolak kenyataan tidak akan memebuat semua itu lebih mudah buat kita, menerima kenyataan bahwasanya ada orang lain yang diberikan kelebihan yang tidak kita miliki, dan menerima fakta bahwa masih banyak ruang bagi kita untuk belajar dan berkembang justru akan membuat semua ini lebih mudah buat kita. Bukanlah menolak kenyataan yang harus dilakukan, namun melihat sebuah kekalahan sebagai sebuah pembelajaran, dan sumber yang harus dievaluasi, kita harus melihat kekalahan sebagai sebuah ruang untuk berkembang, melihat kekalahan, sebagai sebuah kesempatan untuk memotivasi diri untuk segera berlatih, maju, dan menang. Kekalahan harusnya menyadarkan kita bahwasanya kita bukanlah manusia yang sempurna, dan bahwasanya kita masih memeliki banyak kekurangan yang harus segera ditutupi. Kekalahan harusnya membuat kita lebih baik, membuat kita lebih berkembang, dan bersemangat dalam menghadapi tantangan, bukan justru melemahkan kita, dan membuat kepala kita tertunduk lemas. Dalam setiap kekalahan ada momentum untuk bangkit, untuk berdiri kembali setelah beberapa saat tergeletak di tanah, untuk kembali berlari setelah tersandung beberapa batu kerikil ditengah jalan.  So now, wipe the sweat from your brow, and the tears from your eyes, and let’s keep pushing through and  go forward.

Pemenang adaalah dia yang mampu mengambil kekuatan dari sebuah kekalahan, axioma bahwasanya seseoarang harus memahami arti dari sebuah kekalahan untuk mencapai kemenangan.  yang hakiki mungkin ada benarnya. Karena seoarang pemenang haruslah seoarang yang mampu untuk mengalami dan menerima kenyataan. Seperti sebuah kata pepatah kuno, “A glod that has a flaw is better than a rock without it.” Bahwasanya sebuah kekalahan dimana kita bisa belajar itu akan lebih baik dari pada sebuah kemenangan yang justru akan menghentikan kita untuk berkembang. Last but not least, never ever waste your loses, if you have to lose, be a loser, but only do it for a sake to be the winner in the next turn.

"Never ever forget the taste of defeat"

Bara E. Brahmantika "il Grande Statista" 

Friday, May 27, 2011

Ketika Hidup Meninggalkan Jejak


Life for me is like juggling balls. Itulah gambaran yang tepat dalam memaknai hidup menurutku, dimana dalam hidup kita, kita bermain, dengan bola-bola kehidupan; bola pekerjaan, bola keluarga, bola iman, bola teman, dan bola kesehatan adalah bola-bola yang paling kita anggap penting dalam hidup. Seiiring waktu , kita pun kehilangan keseimbangan, dan harus memilih salah satu bola untuk jatuh, disinilah orang sering kali tidak sadar, demi melempar tinggi-tinggi pekerjaan ataupun kuliah sering sekali orang-orang mengorbankan entah teman, entah keluarga, entah kesehatan, dan yang paling parah ketika ia mengorbankan keimanannya untuk menyelamatkan pekerjaannya.

Sebuah kisah menceritakan tentang seorang anak yang sangat emosional dan tidakmudah menahan emosinya, ia dengan mudahnya menyakiti orang lain disekitarnya untuk memenuhi ego pribadi nya sendiri. Suatu saat sang ayah memanggil si anak, dan berbincang-bincang dengan anak tersebut, dan mereka membuat kesepakatan. Sang ayah membuat perjanjian dengan anaknya, bahwasanya setiap anak itu melukai orang lain, ataupun marah terhadap orang lain, sang anak harus memaku satu paku dipagar taman belakang untuk setiap orang yang ia lukai atau yang ia marah padanya. Akhirnya setiap hari sang anak memasang beberapa paku dipagar, namun setiap harinya jumlah paku yang dipasang setiap harinya semakin berkurang. Pada suatu hari akhirnya anak itu berhasil untuk berhenti memasang paku-paku itu dipagar. Akhirnya sang Ayah kembali memanggil anak tersebut, dan mengatakan pada anak tersebut untuk mencabut tiap paku yang ada dipagar tersebut setiap kali sang anak melakukan kebaikan terhadap orang lain. Sang anak pun tiap hari mencabuti satu persatu paku yang telah ia tancapkan dipagar itu dahulu, hingga sampai sutu hari semua paku itu pun tercabut, akhirnya sang ayah pun mendatangi anak tersebut dan berkata, “Wahai anakku, lihatlah ke pagar tersebut, lihatlah pada tempat-tempat dimana engkau pernah menancapkan paku-paku tersebut. Apa yang kau lihat?” Anaknya menjawab, “aku melihat lubang lubang kecil, ayah.” Sang Ayah pun tersenyum, “Benar sekali anakku, begitu pulalah hidup dan hati manusia, kalau engkau telah melukai hati manusia, sebaik apapun engkau, berusaha memperbaikinya, akan tetap ada bekas pada hati-hati yang engkau lukai, akan tetap ada goresan, noda, maupun retakan, pada hati yang telah engkau lukai. Maka dari karena itu anakku, berhati hatilah dalam bertindak, jagalah perasaan orang di sekitarmu, dan berusahalah untuk tidak melukai hati orang lain, Karena itu akan meninggalkan bekas, karena bekas itu akan ada disana untuk selamanya.”

Cerita tentang Ayah dan Anak, dengan perumpamaannya tentang kehidupan sangatlah sesuai dengan kehidupan yang kita jalani saat ini. Rasa egois kita sering kali akhirnya mengorbankan teman, mengorbankan keluarga, mengorbankan iman. Ketika rasa ego kita akhirnya mengorbankan bola – bola kehidupan yang terbuat dari kaca tersebut, maka yang kita akan temukan adalah retaknya, tergoresnya, ternodanya, atau bahkan hancur berkeping-kepingnya bola – bola tersebut, yang mana kita tak kan pernah bisa satukan kembali menjadi seperti semula. Ingatlah wahai kawan, setiap tindakan itu akan selalu berbekas, setiap tindakan itu akan meninggalkan noda, dan setiap tindakan akan di minta pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Jadi mari memilih, meninggalkan bekas luka, atau meninggalkan ukiran-ukiran indah di dalam kehidupan kita? Meninggalkan noda noda hitam di atas hati? Atau meninggalkan warna-warna yang mencerahkan hati? Akankah kita mengorbankan iman, demi keegoisan seorang insan? Semoga kita bisa memilih dengan bijak akan jalan yang kita pilih, semoga kita bisa memilih dengan hati, dan selalu berhati-hati untuk menjaga perasaan orang lain.

Bara E. Brahmantika "Il Grande Statista"

Sunday, April 17, 2011

Sebuah Berlian dan Aku

















Berulang kali sebenarya Mama telah meminta, meminta ku dalam keadaan serius maupun bercanda, Untuk membawa sebuah berlian untuk ditunjukkan padanya dan papa.

Namun tak kunjung pula ku bisa penuhi permintaan itu, aku hanya bisa tersenyum, miris, dan berjanji untuk membawakannya segera, kata “insyaallah” tak lupa ku ucapkan, kadang lirih, tak terdengar, kadang jelas, bersama sebuah senyuman.

Mudah sebenarnya mencari sebuah berlian, tinggal ku susuri pasar-pasar dan pinggiran-pinggiran jalan, mengambil berlian-berlianan, berlian buat-buatan, yang mirip sekali bentuknya, sama bahkan kadang lebih berkilau dari berlian yang sebenarnya. Namun ini kah yang aku persembahkan? ini kah yang aku akan banggakan? ah, sepertinya tidak, walau compang-camping seperti ini, aku masih punya harga diri. walau belopotan lumpur dan oli seperti ini, wajah ini haruslah tetap terhormat dan tegap memandang ke depan, karena sejarah tak akan menghapus apa yang ia telah tuliskan.

Jadi bersabarlah sebentar oh Ibunda, bertahanlah sebentar ayahanda, sabar lah sebentar lagi, berikanlah waktu bagi anakmu ini untuk memperbaiki diri, membersihkan diri dari lumpur-lumpur dan oli. Merapikan diri dari kecompang-campingan ini. Agar pantas kiranya apabila ku masuki rumah Sang Pembuat berlian itu tuk meminta dari-Nya salah satu berlian pujaan itu. Karena sungguh berlian murni itu hanyalah untuk orang yang murni pula hatinya, berlian Indah itu hanya untuk orang yang telah memperindah akhlaknya.

Sampai saat itu terjadi ku mohon pada papa mama tuk tetap menanti, menanti sampai suatu saat dimana anakmu telah siap untuk melengkapi dirinya, dengan perhiasan berlian untuk ditunjukkan padamu nanti. sampai saat itu tiba mohon tetaplah berdoa untuk anakmu ini, semoga cepat ku pantaskan diri ini, tuk menjemput sebuah berlian pujaan hati.