We are one human family under the Sun! while we as a single human is incredibly weak! but as family we are the strongest creature on Earth!
Monday, August 27, 2012
Berani Memimpin, dengan Berani Dipimpin
Monday, January 30, 2012
Kau, Aku, dan Diam.
Teruntuk engkau, udara dan inspirasiku. terima kasih. "B"
more on : grandestatista.tumblr,com
Friday, November 11, 2011
Welcome to the Magic Worlds
The Journey of Questions
Sunday, October 9, 2011
IndonesiaMUN 2011
"Never ever forget the taste of defeat"
Bara E. Brahmantika "il Grande Statista"
Friday, May 27, 2011
Ketika Hidup Meninggalkan Jejak

Life for me is like juggling balls. Itulah gambaran yang tepat dalam memaknai hidup menurutku, dimana dalam hidup kita, kita bermain, dengan bola-bola kehidupan; bola pekerjaan, bola keluarga, bola iman, bola teman, dan bola kesehatan adalah bola-bola yang paling kita anggap penting dalam hidup. Seiiring waktu , kita pun kehilangan keseimbangan, dan harus memilih salah satu bola untuk jatuh, disinilah orang sering kali tidak sadar, demi melempar tinggi-tinggi pekerjaan ataupun kuliah sering sekali orang-orang mengorbankan entah teman, entah keluarga, entah kesehatan, dan yang paling parah ketika ia mengorbankan keimanannya untuk menyelamatkan pekerjaannya.
Sebuah kisah menceritakan tentang seorang anak yang sangat emosional dan tidakmudah menahan emosinya, ia dengan mudahnya menyakiti orang lain disekitarnya untuk memenuhi ego pribadi nya sendiri. Suatu saat sang ayah memanggil si anak, dan berbincang-bincang dengan anak tersebut, dan mereka membuat kesepakatan. Sang ayah membuat perjanjian dengan anaknya, bahwasanya setiap anak itu melukai orang lain, ataupun marah terhadap orang lain, sang anak harus memaku satu paku dipagar taman belakang untuk setiap orang yang ia lukai atau yang ia marah padanya. Akhirnya setiap hari sang anak memasang beberapa paku dipagar, namun setiap harinya jumlah paku yang dipasang setiap harinya semakin berkurang. Pada suatu hari akhirnya anak itu berhasil untuk berhenti memasang paku-paku itu dipagar. Akhirnya sang Ayah kembali memanggil anak tersebut, dan mengatakan pada anak tersebut untuk mencabut tiap paku yang ada dipagar tersebut setiap kali sang anak melakukan kebaikan terhadap orang lain. Sang anak pun tiap hari mencabuti satu persatu paku yang telah ia tancapkan dipagar itu dahulu, hingga sampai sutu hari semua paku itu pun tercabut, akhirnya sang ayah pun mendatangi anak tersebut dan berkata, “Wahai anakku, lihatlah ke pagar tersebut, lihatlah pada tempat-tempat dimana engkau pernah menancapkan paku-paku tersebut. Apa yang kau lihat?” Anaknya menjawab, “aku melihat lubang lubang kecil, ayah.” Sang Ayah pun tersenyum, “Benar sekali anakku, begitu pulalah hidup dan hati manusia, kalau engkau telah melukai hati manusia, sebaik apapun engkau, berusaha memperbaikinya, akan tetap ada bekas pada hati-hati yang engkau lukai, akan tetap ada goresan, noda, maupun retakan, pada hati yang telah engkau lukai. Maka dari karena itu anakku, berhati hatilah dalam bertindak, jagalah perasaan orang di sekitarmu, dan berusahalah untuk tidak melukai hati orang lain, Karena itu akan meninggalkan bekas, karena bekas itu akan ada disana untuk selamanya.”
Cerita tentang Ayah dan Anak, dengan perumpamaannya tentang kehidupan sangatlah sesuai dengan kehidupan yang kita jalani saat ini. Rasa egois kita sering kali akhirnya mengorbankan teman, mengorbankan keluarga, mengorbankan iman. Ketika rasa ego kita akhirnya mengorbankan bola – bola kehidupan yang terbuat dari kaca tersebut, maka yang kita akan temukan adalah retaknya, tergoresnya, ternodanya, atau bahkan hancur berkeping-kepingnya bola – bola tersebut, yang mana kita tak kan pernah bisa satukan kembali menjadi seperti semula. Ingatlah wahai kawan, setiap tindakan itu akan selalu berbekas, setiap tindakan itu akan meninggalkan noda, dan setiap tindakan akan di minta pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Jadi mari memilih, meninggalkan bekas luka, atau meninggalkan ukiran-ukiran indah di dalam kehidupan kita? Meninggalkan noda noda hitam di atas hati? Atau meninggalkan warna-warna yang mencerahkan hati? Akankah kita mengorbankan iman, demi keegoisan seorang insan? Semoga kita bisa memilih dengan bijak akan jalan yang kita pilih, semoga kita bisa memilih dengan hati, dan selalu berhati-hati untuk menjaga perasaan orang lain.
Bara E. Brahmantika "Il Grande Statista"
Sunday, April 17, 2011
Sebuah Berlian dan Aku
Berulang kali sebenarya Mama telah meminta, meminta ku dalam keadaan serius maupun bercanda, Untuk membawa sebuah berlian untuk ditunjukkan padanya dan papa.
Namun tak kunjung pula ku bisa penuhi permintaan itu, aku hanya bisa tersenyum, miris, dan berjanji untuk membawakannya segera, kata “insyaallah” tak lupa ku ucapkan, kadang lirih, tak terdengar, kadang jelas, bersama sebuah senyuman.
Mudah sebenarnya mencari sebuah berlian, tinggal ku susuri pasar-pasar dan pinggiran-pinggiran jalan, mengambil berlian-berlianan, berlian buat-buatan, yang mirip sekali bentuknya, sama bahkan kadang lebih berkilau dari berlian yang sebenarnya. Namun ini kah yang aku persembahkan? ini kah yang aku akan banggakan? ah, sepertinya tidak, walau compang-camping seperti ini, aku masih punya harga diri. walau belopotan lumpur dan oli seperti ini, wajah ini haruslah tetap terhormat dan tegap memandang ke depan, karena sejarah tak akan menghapus apa yang ia telah tuliskan.
Jadi bersabarlah sebentar oh Ibunda, bertahanlah sebentar ayahanda, sabar lah sebentar lagi, berikanlah waktu bagi anakmu ini untuk memperbaiki diri, membersihkan diri dari lumpur-lumpur dan oli. Merapikan diri dari kecompang-campingan ini. Agar pantas kiranya apabila ku masuki rumah Sang Pembuat berlian itu tuk meminta dari-Nya salah satu berlian pujaan itu. Karena sungguh berlian murni itu hanyalah untuk orang yang murni pula hatinya, berlian Indah itu hanya untuk orang yang telah memperindah akhlaknya.
Sampai saat itu terjadi ku mohon pada papa mama tuk tetap menanti, menanti sampai suatu saat dimana anakmu telah siap untuk melengkapi dirinya, dengan perhiasan berlian untuk ditunjukkan padamu nanti. sampai saat itu tiba mohon tetaplah berdoa untuk anakmu ini, semoga cepat ku pantaskan diri ini, tuk menjemput sebuah berlian pujaan hati.




